Arsip Blog

Sabtu, 07 Mei 2011

Addie MS Rekaman Lagu Daerah Indonesia di Eropa

INILAH.COM, Jakarta - Addie MS merampungkan rekaman lagu-lagu daerah Indonesia di Eropa. Ini dilakukan mengingat Adhie sangat mencintai musik dan lagu Indonesia.
"Lagu daerah kita banyak yang bagus. Kekayaan daerah harus dilestarikan supaya tidak dilupakan. Kayak kemarin, ada bangsa lain mengakui kebudayaan kita. Dari pada kita kecewa di kemudian hari, kenapa tidak dari sekarang," terangnya saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jumat (6/5).

Addie merekam 25 lagu-lagu daerah yang mencakup hampir seluruh provinsi di Indonesia. Lagu-lagu daerah tersebut dipersiapkan selama tiga bulan dan direkam dalam bentuk musik simponi selama tiga hari.

"Saya merekam 25 lagu daerah Indonesia, supaya lebih dikenal. Kami rekam simponik, direkam dua CD. Rekamannya di Cityopera simphony, Praha. Sedangkan mixing dan mastering di London," sambung suami penyanyi Memes ini.

Ini sebenarnya cita-cita lama Adhie. Namun karena keterbatasan modal, proyek ini baru bisa dijalankan saat ini. "Kenapa baru sekarang? Karena butuh banyak dana. Sampai akhirnya ada pihak yang menawarkan. Saya kaget, ketika ada yang menawarkan proyek ini. Ini cita-cita lama, ketemu, jreng," sambung Adhie.

Ini sebenarnya bukan proyek pertamanya di musik non komersil. Sebelumnya pada 1998, ia juga merekam lagu-lagu kebanggasaan Indonesia.

"Pada 1998, saya baru sadar lagu Indonesia Raya kalau dengar lagunya di teve kresek-kresek, karena itu direkam 50 tahun yang lalu. Lalu saya bikin ulang dengan aransmen lama, tapi teknologi lebih jernih. Dan itu dipakai di istana, dimana-mana. Tapi komersilnya saya tidak dapat apa-apa. Saat itu kalau dapat royalti, saya sudah kaya raya. Sekarang juga bukan untuk mengkayakan diri, tapi prihatin," ujarnya

Di tengah industri musik yang berlomba-lomba mencari keuntungan lewat ring back tone (RBT), niat baik Addie patut mendapatkan apresiasi.

"Kalau bicara soal komersial, saya cukup kenyang pada 1980-an. Saat itu saya sibuk di musik komersial. Vina Panduwinata, Harvey Malaiholo, Ikang Fauzi, hampir semua saya bikin. Tapi di 1991 saya komit untuk tidak musik komersil," tuturnya. [aji]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...