Arsip Blog

Minggu, 29 Mei 2011

Lagu Asing Rasa Indonesia

Lagu yang diciptakan AR Rahman ini kerap dinyanyikan dalam pesta-pesta dan perayaan kebudayaan India. Pada tahun 2003, BBC World Service memasukkannya dalam deretan 10 besar lagu terpopuler sepanjang masa.

Sukhwinder Singh dan Sapna Awasthi menyanyikannya dengan baik. Anda bisa menebak lagu apa yang dimaksud?
''Chaiyya-chaiyya''. Ya, bukan hanya Briptu Norman Kamaru yang jago me-lipsync lagu ini. Shakhrukh Khan sudah melakukannya lebih dulu, demi tuntutan peran dalam film Dil Se. Tetapi untunglah polisi asal Gorontalo itu memang benar-benar bisa bernyanyi. Dengan bendera Falcon Record, Norman meluncurkan singgel ''Cinta Gila''.

Singgel itu jelas sulit dilepaskan dari ''Chaiyya-chaiyya''. Sepintas, ''Cinta Gila'' berkesan sebagai ''Chaiyya-chaiyya'' versi Indonesia. Meski memiliki kesamaan notasi, toh produser Falcon Adit OB tak mau disebut menjiplak. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media hiburan ibukota, Adit mengaku sudah mendapatkan lisensi untuk mempublikasikannya.

''Lagu itu memang lagu 'Chaiyya-Chaiyya' tapi musiknya diubah. 5,5 bar tidak sampai 8 bar. Kita sudah minta izin dari Inggris, karena yang memproduksinya berada di sana. Mirip secara notasi, cuma kalau secara detailnya notasi doremi-nya, pasti berubah.''

Yang jelas, jangan samakan lirik ''Chaiyya-chaiyya'' dengan ''Cinta Gila''. Pada bait pertama saja, perbedaan itu sudah muncul dengan kentara. Pada ''Chaiyya-chaiyya'', terjemahan bebasnya adalah, ''Dia yang dinaungi cinta. Surga berada di telapak kakinya. Dia yang dinaungi cinta. Berjalan dalam naungan.''
Tentu berbeda dengan, ''Sungguh merindukanmu sejak pertama bertemu. Dengarkanlah isi hatiku. Cinta cinta cinta. Aku gila gila gila.''

Fenomena ini bukan hal yang jarang terjadi. Jika dirunut ke belakang, lagu dangdut ''Bang Thoyib'' terdengar senuansa dengan ''Ya Thoyibah''. Atau, barangkali publik belum lupa dengan lagu ''It's Only Word'' milik Bee Gees yang dipelesetkan dalam bahasa Jawa dengan judul ''Iso Ngliwet''. Beberapa soundtrack serial Mandarin dan kartun Jepang juga sering diindonesiakan dengan terjemahan asal-asalan. Para penggemar serial Sinchan, Sailormoon, hingga Return of The Condor Heroes pasti tak canggung menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam Bahasa Indonesia.

Zivilia, grup band yang terkenal dengan hit ''Aishiteru'', juga mencoba mengindonesiakan lagu Jepang yang booming di tahun 1980-an, ''Kokoro No Tomo''. Berbeda dengan ''Chaiyya-chaiyya'' yang liriknya memiliki pemaknaan yang berbeda jauh dengan ''Cinta Gila'', ''Kokoro No Tomo'' versi asli dan versi Indonesia relatif memiliki interpretasi hampir serupa.
Pada bagian reffrain, misalnya, Zivilia menggunakan kalimat, ''Belaian cintaku kan selalu, teman engkau saat pulang. Karena aku ada untukmu, sebagai teman hatimu.''

Sedangkan terjemahan bebas ''Ai wa itsumo rarabai. Tabi ni tsukareta toki. Tada kokoro no tomo to. Watashi o yonde'' adalah ''cinta selalu melenakan, tatkala lelah dalam perjalanan. Ingatlah diriku, sebagai teman hatimu.''

***
FENOMENA alih bahasa ini sebagai upaya untuk mengemas kembali lagu yang sudah ada memang dibolehkan dengan beberapa ketentuan. Berbeda dengan plagiarisme, yang diartikan sebagai aksi jiplak tanpa izin, meng-cover lagu lama, termasuk mengalihbahasakan liriknya, dianggap tidak melanggar Undang-undang Hak Cipta selagi tercipta kesepakatan dengan pemilik lisensi.

Dan, tunggu, jangan kira musik Indonesia tak pernah dialihbahasakan oleh pemusik asing. Baru-baru ini, lagu ''Cari Jodoh'' milik Wali Band dinyanyikan oleh Fabrizio Faniello dalam versi Inggris. Beberapa musisi tanah air yang juga merumput di pasar internasional juga acap membuat lagu dalam dua versi yang ditujukan bagi pasar domestik dan asing.

Anggun C Sasmi, misalnya, sejak tahun 1997 meluncurkan album dalam versi Inggris dan Perancis. Sedangkan Mocca memilih jalur aman dengan konsisten menghadirkan lirik-lirik berbahasa Inggris yang relatif dapat diterima pasar internasional. Christian Bautista, penyanyi asal Filipina, memilih pendekatan lain, melalui duetnya dengan solois tanah air yang sedang beken Bunga Citra Lestari untuk membawakan lagu-lagunya dalam bahasa Indonesia.
Ya, musik memang universal, tetapi ternyata, bagi sebagian orang, untuk menikmatinya  pun masih perlu lirik rasa lokal. Ya sudahlah. (62)


source : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/05/29/148061/12/Lagu-Asing-Rasa-Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...