Arsip Blog

Sabtu, 14 Mei 2011

Aksi Jerman-RI untuk Bumi di Jalan 17 Juni

Berlin - Indonesia sepakat bahwa perlindungan lingkungan hidup adalah tanggungjawab masyarakat global.

Demikian Dubes RI untuk Republik Federal Jerman Dr. Eddy Pratomo di hadapan Menteri Lingkungan Hidup Jerman Dr. Norbert Röttgen dalam kegiatan penanaman pohon bersama di Brandenburger Tor, Berlin (12/5/2011).

"Sikap ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam menanggulangi bahaya global akibat perubahan iklim serta dalam mendukung Protokol Kyoto," ujar Dubes.

Kegiatan yang berlangsung di area sepanjang jalan bersejarah Straße des 17 Juni (Jalan 17 Juni) itu, menurut Sekretaris III Purno Widodo kepada detikcom, diikuti oleh beberapa dubes negara sahabat, politisi Jerman, pelajar serta media massa setempat.

Dubes, yang juga penasehat senior Indonesia dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), dalam kesempatan tersebut bersama Menteri Lingkungan Hidup Röttgen mendapat kehormatan melakukan penanaman pohon secara simbolis.

Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup Jerman Dr. Norbert Röttgen dalam sambutannya mengajak umat manusia untuk terus dan tak pernah berhenti menanam pohon.

"Hal ini secara khusus bermanfaat untuk membuat kualitas hidup menjadi lebih baik serta lebih sehat. Ini pula yang dapat diwariskan untuk anak cucu kita, generasi akan datang," pesan Röttgen.

Kegiatan penanaman 17 pohon limau tersebut merupakan acara penutup dari serangkaian penanaman 64 pohon limau, yang dikelola oleh yayasan lingkungan hidup GAIA.

Yayasan ini bergerak dalam advokasi lingkungan, kualitas hidup dan budaya di Jerman. KBRI Berlin dalam program tersebut bertindak sebagai salah satu sponsor.

"Ini bukti konkret Indonesia dalam upaya penyelamatan lingkungan, sebagaimana selalu diupayakan dalam berbagai sidang UNFCC, terutama kelanjutan sidang di Bangkok, April lalu," pungkas Dubes.

UNFCCC Bangkok

Disebutkan, pembahasan dalam sidang UNFCCC di Bangkok seperti biasa berjalan tidak mudah.

Namun Indonesia tetap optimis bahwa proses tersebut akan dapat menjembatani perbedaan negara-negara dalam menyiapkan pertemuan di Durban. Optimisme ini diwujudkan melalui serangkaian diplomasi untuk menjembatani beberapa perbedaan.

Sebelumnya perbedaan-perbedaan itu mencuat dalam pertemuan koordinasi Kelompok 77 dan China, Kelompok Asia, pencalonan tuan rumah UNFCCC COP tahun 2012 dan pencalonan anggota komite transisi untuk pendanaan iklim.

Sidang di Bangkok merupakan pertemuan putaran pertama di 2011, untuk mendiskusikan lebih lanjut pelaksanaan mandat Bali Action Plan dan Cancun Agreement, serta kelanjutan komitmen kedua dari negara-negara maju sesuai Protokol Kyoto melalui AWG-KP dan AWG-LCA1.

Indonesia juga mengambil peran aktif dalam kelompok Cartagena Dialogue, sebuah kelompok informal negara-negara berpandangan sama mengenai jalan tengah dalam perumusan keputusan yang diperlukan untuk penanganan perubahan iklim di masa depan.

(es/es)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

Memuat...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...