Arsip Blog

Minggu, 01 Mei 2011

Vise Jadi Pintu Masuk Pemain Indonesia ke Eropa

INILAH.COM, Liege – Klub sepakbola Royal Cercle Sportif Visetois (Vise), Liege, Belgia, akan dijadikan sebagai pintu masuk bagi para pesepakbola Indonesia untuk bermain di klub-klub yang berlaga di kompetisi terbaik di Eropa.
Chairman Vise Aga Bakrie mengemukakan hal itu saat memperkenalkan markas Akademi Sepakbola Vise kepada rombongan wartawan dari Indonesia di Vise, Liege, Belgia, Sabtu petang (30/4/2011).
Akademi sepakbola terbaik kedua di Belgia itu memiliki 10 lapangan berstandar internasional sebagai tempat latihan bibit muda pesepakbola mulai usia 6 tahun hingga 17 tahun. Lokasinya startegis berjarak sekitar 30-50 kilometer dari Maastrich di Belanda dan Achen di Jerman. Dua negara tersebut (Belanda dan Jerman) dikenal maju sepakbolanya.
Menurut Aga, pihaknya memilih membeli Vise karena sejumlah alasan strategis. Salah satunya ialah regulasi Federasi Sepakbola Belgia tentang jumlah pemain yang berasal dari non-anggota Uni Eropa (UE) dikenal paling longgar.
“Dengan regulasi yang longgar tentang jumlah pemain asing non-anggota UE itu, kita bisa mendatangkan banyak pemain dari Indonesia untuk bisa bermain di sini (tim inti Vise dan berkompetisi di Liga Belgia),” kata putra Nirwan Dermawan Bakrie, pengusaha yang juga dikenal sebagai penggila sepakbola.
Aga mengatakan, dengan kondisi seperti itu, kepemilikan keluarga Bakrie atas Vise akan menguntungkan bagi kepentingan kemajuan sepakbola nasional. Dia menegaskan para pemain sepakbola Indonesia punya peluang menjadi pemain klub-klub Eropa yang bermain di kompetisi kelas dunia.
“Kami berharap bisa mendatangkan 2-3 pemain Indonesia pada bursa transfer musim panas ini. Mungkin dari para pemain yang kini bermain di Uruguay (proyek SAD) atau dari Indonesia (yang bermain di kompetisi Indonesia). Yang penting yang terbaik akan kami datangkan ke sini,” ungkap Aga.
Dia menjelaskan fokus manajemen baru Vise dalam mendatangkan pemain asal Indonesia ialah mereka yang berusia 18 tahun ke atas. Karena, lanjutnya, mulai usia itulah pemain baru bisa dikontrak sebagai pesepakbola profesional. Selanjutnya, dengan dikontrak sebagai pemain profesional dan berpeluang masuk tim inti Vise, mereka bakal terasah mental dan kemampuan teknisnya untuk berlaga di negara-negara yang memiliki kompetisi terbaik di Eropa, seperti Belanda, Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, dan Prancis.
Bagaimana dengan pengiriman pemain usia muda ke Akademi Sepakbola Vise? “Itu belum putus. Kami masih memikirkannya. Karena, itu juga terkait dengan masalah keluarga (untuk mendatangkan pemain muda Indonesia menjadi siswa akademi tersebut),” ujar Aga.
Keluarga Bakrie secara resmi membeli klub divisi II (setingkat di bawah divisi tertinggi) Liga Belgia itu pada 15 April 2011. Keluarga Bakrie membeli klub yang berada di posisi keenam klasemen sementara kompetisi yang hampir berakhir itu melalui PT Pelita Jaya Cronus.
Menurut Aga, dengan pembelian tersebut, Pelita Jaya menjadi pemegang saham mayoritas Vise. Aga menolak merinci seberapa besar kepemilikan saham Pelita Jaya Cronus di klub tersebut.
“Mayoritas atau controlling. Ya lebih dari 50 persenlah,” ujar putra Nirwan Dermawan Bakrie itu menjawab pertanyaan INILAH.COM.
Namun, sumber INILAH.COM menyebutkan keluarga Bakrie hampir menguasai sepenuhnya dengan memiliki sekitar 80-90 persen. Adapun sisanya tetap dipegang pemilik lama Guy Thiry yang sekaligus merangkap sebagai Presiden Vise.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...