Arsip Blog

Kamis, 12 Mei 2011

Makassar Bisa Jadi Pusat Pengembangan Seni dan Budaya

AKASSAR berkembang menjadi kota dunia. Even internasional pun mulai digelar di kota ini. Bulan Juni nanti ada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2011 yang merupakan embrio bagi kegiatan Rumata' (rumah budaya yang digagas Riri Riza dan Lily Yulianti Farid) di masa mendatang.

Bagaimana dan seperti apa perkembangan dunia seni dan budaya khususnya di Ranah Daeng? Simak pandangan seorang sutradara, produser, dan juga penulis skenario kawakan Indonesia yang juga pendiri sekaligus Direktur Rumah Budaya Rumata'. Berikut kutipan wawancara reporter Fajar Rosmini Hamid, dengan Riri Riza, Selasa  10 Mei 2011.

Selamat datang di kampung halaman, bagaimana kabar Anda?

Terima kasih. Alhamdulillah saya diterima dengan baik di sini. Banyak teman dan sahabat yang saya jumpai.

Seorang Riri Riza dengan latar belakang darah Makassar dikabarkan sangat cinta terhadap kota ini. Bahkan ada  yang mengatakan Anda rela mati demi Makassar. Benar demikian?

Saya lahir di Makassar, saya menghabiskan banyak perjalanan hidup saya di sini. Saya tumbuh dan besar di sini meski kemudian pada akhirnya saya menetap di Jakarta dan berkarya di sana. Saya sangat mencintai kota ini. Bisa dikatakan betul yang Anda ungkapkan. Namun saya ingin bahasa yang sederhana, saya ingin berbuat untuk mengangkat nama Makassar.

Sebagai putra daerah yang sangat mencintai Makassar, bagaimana Anda melihat perkembangan kota ini dari sudut pandang seni dan budaya?

Ini adalah kota yang secara fisik berkembang secara ekonomi. Tapi coba kita pikir dari sudut budaya dan seni. Coba kita bertanya ada gak toko buku yang baik di sini? Ada gak galeri seni yang baik ada di sini?

Gedung kesenian dalam posisi yang mati suri  karena pembangunannya berhenti. Saya gak mengerti persoalannya apa, saya belum menjelajah lebih jauh dengan persoalan itu. Makanya saya pikir belum ada perkembangan berarti dalam hal seni dan budaya. Sementara pada saat yang sama saya mendengar dan melihat karya teman yang ada di sini. Mereka punya potensi untuk berkembang. Kalau saya berada di tengah mereka, mungkin saya akan banyak belajar.

Apakah hal tersebut yang kemudian menggerakkan Anda untuk menghibahkan rumah Anda sebagai ruang eksplorasi seni dan budaya, yang kemudian disebut Rumata'?

Paling utama saya pikir wajar apabila sebuah kota warganya mendapatkan akses terhadap berbagai sumber inspirasi. Dan saya pikir ketika saya berkarya, kota itu atau tempat tinggal saya itu inspirasi yang besar.

Ketika saya bersepeda melewati pasar misalnya. Sederhananya masyarakat Makassar tentu saja, harus kita akui memiliki latar belakang budaya, etnik, dan aspirasi seni yang cukup tinggi. Saya pikir patut sekali ada tempat yang menjadi semacam pusat tempat pertemuan.

Pada saat yang sama, saya orang sini, lahir di sini. Kalau setiap kali datang di Makassar tidak ada apa-apa, aneh rasanya. Saya butuh hubungan lagi dengan masyarakat di sini. Jadi kalau ada kesan saya hanya menghibahkan atau saya hanya memberikan rumah, saya pikir itu juga tidak tepat. Karena saya yakin, saya juga akan dapat banyak hal dari apa yang saya lakukan melalui Rumata', melalui kesenian yang baik. Intinya Makassar bisa jadi pusat pengembangan seni dan budaya. Apalagi pementasan kelas dunia sudah dilakukan di sini dengan I Lagaligo.

Seberapa penting pengembangan seni dan budaya di Makassar bagi Anda?

Berkesenian dalam segala macam seni dan budaya itu adalah proses mencari secara terus menerus. Ketika saya membuat film, ketika saya menulis, saya mencari inspirasi terus-menerus. Ini sudah hampir satu tahun saya bolak-balik ke Makassar sendiri. Kadang-kadang nyari ongkos sendiri. Kadang-kadang saya kaitkan dengan acara di Makassar biar datang tidak kosong. Saya merasa mendapatkan banyak hal di Makassar.

Saya ingin menyiapkan sebuah ruang di mana semua komunitas berkumpul. Saya ingin memiliki galeri, walaupun tidak terlalu besar tapi bisa menjadi tempat fotografer di Makassar memamerkan karyanya. Ada tempat memamerkan karya bagi kaum perupa, komunitas seni dan komunitas teater. Pada saat yang bersamaan, orang-orang Makassar juga bisa memiliki tempat yang representatif dan nyaman untuk menikmati karya-karya seni. Itu sederhananya. Bayangkan dalam jangka panjang, apabila tempat seperti Rumata'  berkembang lebih baik, dia akan menjadi pusat pemikiran pengembangan kota yang lebih berkesenian dan berbudaya.

Di Makassar International Writers Festival 2011 misalnya, kami menghadirkan penulis dan penyair dari Belanda, Turki, Mesir, Amerika, Australia, dan para penulis dari Makassar sendiri. Salah satu visi kami adalah menjadikan Makassar sebagai pusat berbagai kegiatan seni, budaya, dan sastra. Bahkan format festival akan terus kami kembangkan, bukan hanya di bidang sastra, tapi juga di bidang sinema, musik, dan kegiatan kreatif lainnya.

Bagaimana dengan peran pemerintah. Kelihatannya pemerintah masih  lemah dalam membantu menggerakkan bidang seni dan budaya di sini.

Itu justru yang saya pelajari bertahun-tahun. Tidak bisa kita membangun seni dan budaya bangsa kita ini, apabila kita terlalu bergantung pada pemerintah. Pemerintah adalah fasilitator, kalau pemerintah itu baik. Dia bukan menjadi regulator atau jadi penentu atau jadi orang yang mendorong inisiatif-inisiatif kemasyarakatan. Kita yang menentukan itu. Pertama kali saya membuat film tahun 2008, saya sama sekali tidak memperoleh dukungan dengan pemerintah. Saya terbiasa begitu, bertemu dengan teman-teman dan sahabat yang rata-rata membuka sebuah usaha dan komunitas dengan cara-cara yang murah dan sederhana tapi berjalan terus. Saya punya kepedulian terhadap seni dan pengembangan kebudayaan. Saya punya ruang.

Porsinya pemerintah kita tahu lah. Kita tahu pemerintah di Indonesia sejak zaman reformasi dibangun dari sistem politik tertentu, demokrasi seperti ini punya konsekuensi segala sesuatu betul-betul menjadi pertimbangan politik. Sarat akan kepentingan golongan. Pertimbangan politik biasanya meninggalkan pertimbangan kebudayaan. Di situlah dibutuhkan peran masyarakat. Saya berpikir kalau saya ternyata bisa punya makna, untuk menginspirasi masyarakat untuk melakukan perbaikan-perbaikan komunitasnya.

Setelah Rumata' apalagi yang Anda akan persembahkan bagi Makassar, sebuah karya film mungkin?

Sampai saat ini saya masih mencari idenya apa. Saya ingin sekali punya film tentang Makassar. Bayangkan saya pernah membuat film tentang orang Jakarta, orang Belitung, orang Jawa, tapi saya belum pernah membuat film dari bahasa dan budaya ibu saya sendiri. Itu kan sebuah kegelisahan dan saya pikir mudah-mudahan interaksi saya yang terus menerus ini akan membuka kesempatan bagi saya, bisa melakukan itu. Saya harus punya karya itu. Alhamdulillah saya diterima dengan baik oleh teman-teman, semoga dengan hadirnya Rumata' inspirasi itu ada. (mimi.naval@gmail.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...