Arsip Blog

Minggu, 08 Mei 2011

Karakter Indonesia

OSAMA bin Laden tewas di tangan pasukan elite Amerika Serikat! Itu berita yang memenuhi halaman seluruh koran dan tayangan televisi di Tanah Air, Selasa (3/5). Sejak itu, berbagai ulasan, diskusi dan perdebatan ikhwal gembong teroris kelahiran Riyadh, Saudi Arabia 54 tahun silam tersebut digelar di layar kaca. Termasuk cerita tentang mayatnya yang diceburkan di Laut Arab Utara, karena dikhawatirkan tidak ada negara yang merelakan wilayahnya sebagai tempat penguburan.

Aku tidak begitu tertarik membicarakan kematian Osama, meski ingatanku tentang dua kali bom teroris yang diledakkan di Bali tetap lekat. Umar Patek, teroris asal Indonesia yang kini ditahan aparat keamanan Pakistan, yang konon punya rencana bertemu Osama di Abbottabad, lokasi penggerebekan, adalah otak perencana kedua Bom Bali itu. Meski bersedih karena sempat melihat kondisi para korban ledakan di RSU Sanglah sembilan tahun lalu, aku tidak terlalu bergembira mendengar khabar kematian pemimpin Al Qaeda itu. Sebagai penganut Hindu, aku yakin konsep Tri Kona yakni Utpeti-Stiti-Pralina terus berlangsung. Setiap mahluk hidup pasti mengalami kelahiran, pertumbuhan dan kematian. Tidak salah kalau sebuah grup band menamakan kelompoknya, Superman is dead, ujar Rubag.

Benar, kata pepatah harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Osama mampus meninggalkan empat istri, hahaha. Celakanya, seorang di antaranya mengalami luka-luka, konon karena sempat dijadikan tameng hidup saat penggerebekan. Istri termuda lagi, kok tega ya ? Suami sepatutnya melindungi istri, apa pun risikonya ! Bukan mementingkan diri sendiri menjadikannya semacam rompi antipeluru. Padahal dia dianggap simbol perlawanan terhadap imperialisme Barat, yang seharusnya memiliki karakter dan kepribadian setangguh baja dan nyali macan. Dari berbagai kisah manusia yang kupelajari baik lewat buku, berita maupun kenyataan, ternyata batas antara berani dan takut itu, nyaris tidak ada. Ada kalanya orang bosan takut, terpaksa jadi pemberani karena didesak terus. Sebaliknya pemberani yang menciut nyalinya karena bayangan kematian, akan jadi pengecut, sahut Lonjong.

Itu mirip seperti pendapat Thomas Hobbes. Di samping berusia pendek, manusia katanya adalah mahluk yang mementingkan diri sendiri serta keselamatannya. Karenanya dalam kondisi alami, manusia adalah serigala bagi manusia lain. Itu salah satu sebab manusia disebut mahluk paradoksal, karena mendambakan keselamatannya tapi suka mencelakai orang lain. Menginginkan pihak lain selalu berbuat baik, ironisnya diri sendiri boleh berbuat sekehendaknya. Nafsu untuk mempertahankan diri manusia yang menggebu, tambah Hobbes, digerakkan oleh ketakutannya akan kehilangan nyawa. Sebab itulah manusia terpaksa jadi mahluk sosial lewat kontrak sosial, meski sifat individunya sering muncul dan kerap melanggar kesepakatan umum yang bernama norma atau hukum. Kekisruhan di dunia maupun di Tanah Air terus terjadi, kukira, karena naluri purba manusia bangkit lagi meski berjubah modernitas, ulas Rantes.

Aku setuju pendapat yang mengatakan modernisasi adalah proyek yang belum selesai. Celakanya, transisi dari masyarakat pramodern menuju modern keburu diserbu arus globalisasi yang bukan saja mengangkut muatan ekonomi, tapi juga politik, budaya dan teknologi membuat masyarakat yang belum tersentuh modernitas jadi bingung. Di samping mengguyur dengan hal-hal baru dalam berbagai bidang, globalisasi yang dinafasi kerakusan kapitalisme neoliberal juga membelah masyarakat dunia menjadi dua kelompok Kelompok pemenang yang jumlahnya segelintir namun meraih keuntungan berlimpah dari kekayaan dunia dan kelompok pecundang yang mayoritas tapi nyaris tidak kebagian apa. Di tengah rintihan ketidakadilan dan isu pencabutan cara-cara hidup tradisional dengan berbagai cara, muncullah Robin Hood- Robin Hood kontemporer berkedok agama. Sentimen Perang Salib mereka hidupkan kembali dan kita yang hidup di Bali, sebenarnya tidak tahu urusan ikut terimbas, dibom dua kali, komentar Lenco.

Porod celeng monotan, begitu orang-orang tua dulu mengistilahkan ! Itulah sebabnya aku mengatakan tidak tertarik untuk membicarakan kematian Osama. Apalagi di antara pembicara dalam diskusi di TV, kudengar sering terucap bahwa Osama-Osama baru akan lahir. Biarkan mau mati satu tumbuh seribu tidak perduli asal mereka lahir di Arab sana, bukan di Indonesia ! Makanya, aku lebih tertarik membaca perihal pendidikan karakter, yang dicanangkan Mendiknas Mohammad Nuh saat peringatan Hardiknas, seperti dikutip Bali Post Selasa lalu. Dia bilang pendidikan karakter akan diberikan pada para anak didik bukan dalam bentuk mata pelajaran terpisah, melainkan diajarkan dalam kelas dan dimasukkan ke kurikulum. Pendidikan karakter akan dimulai Tahun Ajaran 2011/2012 dan konsepnya konon telah disusun setahun lalu. Untuk itu tema Hardiknas 2011 Pendidkan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dengan subtema Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti, kata Rubag.

Tema dan subtema yang keren ! Jangan-jangan pendidikan karakter yang disodorkan sinetron, film Hollywood dan Bollywood, gaya hidup ala American Dreams lewat TV lebih merasuk ke lubuk hati daripada yang diberikan para guru di sekolah. Apalagi seperti katamu, konsep pendidikan karakter baru disusun setahun lalu, sedangkan anak-anak telah dibina karakternya oleh tayangan TV selama puluhan tahun. Juga dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini, apakah masih sesuai dengan hakikat pendidikan yang diamanatkan Ki Hadjar Dewantara yg bermotto Tut Wuri Handayani? Malah kalau ditinjau dari sudut biaya yang harus dikeluarkan para orang tua agar anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan yang layak, kurasa, pendidikan sudah seperti industri atau pabrik barang mewah. Apalagi di setiap jenjang seakan dibikin kasta dengan istilah sekolah favorit dan nonfavorit, yang ditandai berjubelnya mobil-mobil berkelas saat mengantar dan menjemput anak-anak, tukas Regog.

Aku tidak mengerti, apakah pendidikan karakter tersebut tidak sama dengan Pendidikan Moral Pancasila? Apakah perlu memprioritaskan pendidikan karakter anak didik, sementara di luar sekolah atau di masyarakat mereka menyaksikan perilaku orang-orang yang seharusnya memberi contoh, jauh dari yang disebut berkarakter ? Penyebab kemelut dan segala macam konflik di Tanah Air, kutengarai, akibat perseteruan para elit dan pemimpin. Sebenarnya, kita tidak perlu bicara banyak perihal sumber daya alam, sumber daya manusia, tapi sumber daya moral, sebab telah terjadi degradasi moral yang parah di negeri ini. Itu harus dimulai dari atas, karena ciri khas budaya paternalisme adalah ing ngarso sung tulodo, pemimpin lah yang memberi contoh, tegas Cetug.

Kemendiknas, konon mendefinisikan karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan. Wah, kalau definisi itu benar, berarti sama dengan konsep Tri Hita Karana dikombinasi Trikaya Parisuda dong ! Agar ajaran tersebut diikuti dan dilaksanakan sebagai praktik dan jalan hidup segenap bangsa, orang Bali sendiri khususnya yang beragama Hindu, harus melaksanakannya secara konsekuen lebih dulu. Tidak lagi ribut apalagi saling serang sesama krama Bali, sehingga Gubernur Bali tidak lagi nelangsa. Bila konsep pendidikan karakter ini berhasil membenahi moral bangsa berarti kita tidak perlu khawatir terhadap kelahiran ribuan Osama di luar sana, karena di sini semua manusianya berkarakter Indonesia. ''Semoga saja!'' harap 




http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=1&id=5295

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...