Arsip Blog

Jumat, 01 April 2011

Tujuh Peluang Bisnis di Indonesia Menurut Yudhoyono

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan ada tujuh tantangan di Indonesia yang bisa menjadi peluang bagi pengusaha. Ketujuh peluang itu diuraikannya di hadapan para peserta Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jumat (1/4).

Pertama, Indonesia sedang membutuhkan sumber daya yang besar, termasuk sumber daya keuangan untuk mengembangkan ekonomi selama 15 tahun mendatang. Produk domestik bruto di Indonesia kini US$ 700 miliar, dan ditargetkan melesat menjadi US$ 4 triliun pada tahun 2025.

"Untuk menuju ke sana, struktur ekonomi kita tidak bisa seperti ini. Sektor manufaktur dan jasa harus lebih dikembangkan, ditambah teknologi dan investasi yang tinggi," ujarnya.

Yang kedua, perekonomian kawasan luar pulau Jawa belum berkembang maksimal. Sekarang proporsi perekonomian Jawa terhadap perekonomian nasional disebutnya mencapai 58 persen, dan tak boleh dibiarkan terus begitu karena daya dukung lingkungan makin berkurang. Pebisnis ditantangnya mengembangkan ekonomi daerah di luar Jawa.

Peluang berikutnya adalah kebutuhan listrik yang terus meningkat. Setiap tahun ada penambahan permintaan sebesar 3000 megawatt, dan diperkirakan bakal mencapai 80 ribu megawatt di 2025. "Bisa ditangkap, ada opportunity (kesempatan) usaha di bidang energi dan pembangkit tenaga listrik," tuturnya.

Keempat, peluang di sektor infrastruktur. Ia memandang perlu ada pembangunan besar-besaran agar konektivitas di dalam negeri maupun ke luar makin meningkat. Masih banyak kebutuhan pembangunan dermaga, bandara, jalan tol, transportasi, dan irigasi.

Ketiga, permintaan pasokan listrik di Indonesia terus meningkat. Diperkirakan, pada tahun 2025, kebutuhan listrik di Indonesia menapai 80.000 megawatt. Setiap tahun, sambung Presiden, ada penambahan permintaan pasokan listrik sebesar 3.000 megawatt. "Ada big opportunity dalam sektor kelistrikan," kata Presiden.

Keempat, ada peluang di bidang infrastruktur. Meningkatnya kegiatan bisnis di Indonesia berbanding lurus dengan kebutuhan infrastruktur, utamanya di sektor transportasi, seperti dermaga, bandara, jalan tol, serta irigasi.

Kemudian, kesempatan lain ada dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Dengan penduduk 240 juta orang dan daya beli yang meningkat, Indonesia memerlukan makin banyak pangan, energi, dan air. Berarti, bisnis yang berhubungan dengan ketiga jenis konsumsi itu bakal berkembang pesat. Ia ingin pengusaha membantu agar Indonesia makin mandiri dalam memenuhi tiga kebutuhan tersebut.

Yang keenam adalah pembiayaan pembangunan nasional, yang diperkirakan bakal makin diperlukan seiring dengan berjalannya pembangunan di Indonesia. Yudhoyono mengatakan sekarang sekitar US$ 300 miliar siap diinvestasikan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. Dananya diperoleh dari perusahaan pelat merah, swasta, dan mitra dari negara sahabat. Belum lagi belanja pemerintah, yang dalam empat tahun setidaknya Rp 100 triliun bakal digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur.

Terakhir, Yudhoyono berujar perlu ada sinergi antara pebisnis dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dengan begitu, kebijakan dan regulasi betul-betul tepat, sehingga dunia usaha berkembang dan memberi manfaat bagi negara dan rakyat.

source : http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/04/01/brk,20110401-324431,id.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...