Arsip Blog

Rabu, 06 April 2011

Melongok Pasar Malam Indonesia 2011

DEN HAAG, KOMPAS.com - “Selamat datang khusus kepada semua hadirin yang sudah dating dari jauh”, demikian disampaikan Willem Frederick Van Eekelen, Diplomat Senior dan Mantan Menteri Pertahanan Belanda, dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah ketika mengawali sambutan pembukaan di acara Pasar Malam Indonesia (PMI) 2011 di alun-alun kota Den Haag, Malieveld, 1 April 2011. Karena begitu semangatnya, kata “datang” pun diucapkan “dating” oleh Van Eekelen.
Demikian Aris Heru Utomo, Kompasianer yang juga diplomat Kementrian Luar Negeri, melaporkan lawatannya ke Eropa di Kompasiana. Berikut laporan lengkapnya...
130195659139037368
Selanjutnya dalam bahasa Inggris, Van Eekelen mengemukakan kekagumannya terhadap penyelenggaraan PMI dan upaya Indonesia menjadi salah satu bangsa terkemuka di dunia melalui motto “unity in diversity”. Menurutnya, apa yang telah dicapai bangsa Indonesia bukanlah hal yang mudah. Namun, Indonesia telah membuktikan kemampuannya dalam mengatasi masalah dan memelihara kesatuan. Indonesia telah membuktikan dapat mengelola perbedaan dan menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah hal yang perlu dihindari.
“Suatu prestasi yang mengesankan”, puji Van Eekelen (kali ini dalam bahasa Indonesia) kepada sekitar 500 orang undangan yang memenuhi ruangan pertemuan. Tampak hadir dalam acara pembukaan antara lain mantan Menteri Luar Negeri Belanda, Bernard Bolt, dan Mantan Duta Besar RI untuk Belanda, J.E. Habibie, serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat.
Apa yang disampaikan Van Eekelen mengenai PMI dan Indonesia nampaknya bukanlah sekedar basa-basi. Sebagai seorang mantan pejabat senior Belanda yang terlibat langsung dalam penanganan hubungan bilateral Indonesia-Belanda, Van Eekelen memahami perkembangan yang berlangsung di Indonesia dan upaya-upaya untuk mempererat hubungan kedua negara, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun anggota masyarakat, termasuk inisiatif Kedutaan Besar RI (KBRI) di Den Haag yang didukung masyarakat Indonesia di Belanda untuk menyelenggarakan PMI.
PMI sendiri merupakan kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag sebagai upaya promosi terpadu perdagangan, pariwisata, dan investasi serta seni budaya kepada masyarakat Belanda. KBRI memfasilitasi promosi terpadu dari berbagai kementerian instansi pusat, pemerintah provinsi, kota dan kabupaten, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Selain itu, PMI juga dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertahankan hubungan kekerabatan masyarakat Belanda yang memiliki hubungan emosional dengan Indonesia, yang jumlahnya diperkirakan sekitar 1,5 juta orang (10% dri total penduduk Belanda). Kegiatan yang merupakan gagasan Duta Besar RI J.E Habibie ini, terselenggara untuk pertama kalinya pada tahun 2010. Pada tahun 2010 tersebut, PMI diselenggarakan selama 5 hari dan berhasil menarik pengunjung sebanyak 35 ribu atau rata-rata 7 ribu orang per hari.
Menyusul keberhasilan PMI 2010, maka pada tahun 2011 ini kembali diselenggarakan kegiatan serupa dengan waktu yang lebih lama dan tempat kegiatan yang lebih luas. Jika pada tahun 2010, kegiataan berlangsung 5 hari, maka di tahun 2011 kegiatan berlangsung 7 hari dan tempat kegiatan diperluas dari 3.500 m2 menjadi 6.000 m2. Dengan tempat yang lebih luas, otomatis peserta PMI menjadi lebih banyak. Terdapat sekitar 70 stan untuk peserta PMI yang datang antara lain dari provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Bangka Belitung, Pemerintah Kabupaten/Kota Kutai Timur, Surakarta, Surabaya, Batam, perusahaan penerbangan Garuda, Pelindo II, Angkasa Pura ataupun Pertamina. Sementara itu, pada stan makanan dan minuman, terdapat sekitar 30 stan makanan yang berisikan makanan dan minuman khas seperti sate, gado-gado, bakso, rendang, soto, siomay, es cendol, es kelapa, es doger, dan sebagainya. Khusus stan makanan, penjualnya adalah masyarakat Indonesia di Belanda atau orang Belanda yang memiliki keahlian memasak masakan Indonesia dan sertifikasi berdagang makanan di Belanda
Bak gayung bersambut, kegiatan PMI ini disambut penuh antusias oleh masyarakat Belanda, khususnya masyarakat Indonesia dan keturunan Indonesia yang tinggal di Belanda. Pada saat pembukaan tanggal 1 April, hadir sekitar 2.000 orang pengunjung. Selain memadati tempat pembukaan di Performance Hall, pengunjung juga menyesaki Exhibition Hall dan tentu saja menikmati makanan dan minuman khas Indonesia di food hall.
Menyenangkan sekali melihat sebagian warga negara Indonesia di Belanda, yang jumlahnya diperkirakan sekitar 15 ribu orang, dan masyarakat Belanda keturunan Indonesia atau memiliki ikatan emosional berdatangan ke PMI. Mereka datang bukan sekedar untuk berbelanja dan mengenal Indonesia, tetapi sekaligus untuk bernostalgia dan mengobati rasa kangen akan Indonesia. Mereka umumnya adalah para orang tua yang dulunya pernah tinggal di Indonesia, yang lahir pada masa-masa menjelang perang kemerdekaan Indonesia ataupun sesudahnya. Untuk itu, meski harus duduk di kursi roda, mereka rela datang dari tempat yang jauh ke PMI. Beberapa terlihat sangat antusias berfoto mengenakan pakaian adat Sumatera di stan Dharma Wanita KBRI.
Sementara itu di Performance Hall, para pengunjung dihibur para artis yang sebagian besar didatangkan langsung dari Indonesia seperti Jopi Latul, Edo Kondologit, Pinkan Mambo, The Professor, Lia Marlea, dan Nindy serta artis-artis yang dibawa pihak pemerintah daerah. Para pengunjung tidak sungkan-sungkan bergoyang dangdut atau menari poco-poco ketika para artis membawakan lagu dangdut atau lagu poco-poco karya Ary Sapullete atau yang seirama.
Sementara ketika pertunjukkan seni tari tradisional berlangsung, para pengunjung tetap menyesaki Performance Hall dan menyimak dengan seksama berbagai tarian yang ditampilkan. Dua hari ke depan, Performance Hall diperkirakan akan semakin disesaki pengunjung, karena selain artis yang disebutkan di atas, akan tampil pula artis-artis jebolan Indonesia Mencari Bakat seperti Punky Papua, Rumingkang, Putri Ayu dan Hudson, selain itu ada pula artis senior Bob Tutupoly.

13019569901045964195
Dari pengamatan sepintas dari 3 hari pelaksanaan PMI, terlihat antusiasme yang tinggi masyarakat Belanda untuk hadir di PMI. Saking antusiasnya, saya perhatikan tidak sedikit yang yang datang setiap hari mulai dari hari pertama. Ketika ditanya alasannya datang setiap hari, banyak yang menjawab karena senang dengan atmosfir PMI yang benar-benar mencerminkan keindonesian, mulai dari produk yang dipromosikan hingga seni budaya yang ditampilkan, seperti angklung dan tari tradisional. “Asli Indonesia” kata mereka.
Hal ini berbeda dengan pasar serupa yang telah lebih dahulu diselenggarakan mulai 50 tahun yang lalu yaitu Pasar Tongtong. Di Tongtong suasana tersebut sudah tidak lagi didapatkan. Produk-produk yang ditawarkan sudah bercampur aduk dengan produk dari berbagai negara seperti China, Malaysia, Thailand, Suriname, dan sebagainya, sehingga tidak ada bedanya dengan pasar pada umumnya. Seni budaya yang ditampilkan juga sudah beragam dari berbagai negara. Selain tiket masuknya juga tinggi yaitu 18 euro, bandingkan dengan PMI yang hanya mengenakan tiket masuk sebesar 5 Euro.
Menjawab tudingan bahwa PMI diselenggarakan untuk menjegal keberadaan Pasar Tongtong, Kuasa Usaha Sementara KBRI Den Haag Umar Hadi mengemukakan bahwa penyelenggaraan PMI tidak sama sekali dimaksudkan untuk menjegal Pasar Tongtong yang diselenggarakan setiap bulan Mei, tapi untuk lebih mengaktifkan kegiatan promosi terpadu Trade, Tourism, and Investation (TTI). Dengan sekitar 1,5 juta warga Belanda yang memiliki ikatan emosional dengan Indonesia, Belanda merupakan pasar potensial produk-produk Indonesia dan pintu gerbang produk-produk Indonesia ke negara-negara Eropa lainnya. Karena itu KBRI bermaksud untuk melembagakan kegiatan PMI setiap tahunnya dan diharapkan nantinya bisa sebesar Pasar Tongtong dan berjalan beriringan.
Langkah KBRI Den Haag tentu saja layak disambut baik oleh berbagai kalangan di Indonesia guna pelaksanaan promosi yang benar-benar terpadu menyangkut TTI. Koordinasi antar instansi di Indonesia perlu dilakukan dengan lebih baik lagi dan penyusunan prioritas kegiatan promosi hendaknya disusun bersama dengan melibatkan Kementerian Luar Negeri dan KBRI. Jika ini bisa dilaksanakan, tidak tertutup kemungkinan impian untuk menjadikan kegiatan seperti PMI sebagai arena promosi yang sangat besar dapat terwujud. Semoga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

Memuat...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...