Arsip Blog

Kamis, 14 April 2011

Impian Sederhana HB Jassin untuk Sastra Indonesia

Jakarta Pendiri Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Hans Bague Jassin mempunyai mimpi-mimpi untuk perkembangan dunia sastra di Tanah Air. Kritikus yang dikenal dengan julukan Paus Sastra Indonesia itu ingin agar sastra mempunyai tempat dan kedudukan di negaranya sendiri.

Maka itulah, Jassin yang wafat 11 Maret 2000 pada usia 83 tahun itu mendirikan sebuah pusat dokumentasi untuk mengumpulkan karya-karya sastra. Ia mendirikan PDS HB Jassin pada 28 Juni 1976. Mulai saat itu, Jassin mengikuti perkembangan karya sastra Indonesia secara tertata.

Karya-karya itu dikumpulkannya dengan telaten dan teliti, mulai dari skripsi mahasiswa, novel, hingga puisi-puisi remaja yang dipulikasikan di koran.

"Setiap ada puisi atau buku dari orang yang belum terkenal, itu dikumpulkan. Puisi remaja tetap digunting. Saya tanya, lho, Pak kan itu bukan dari sastrawan terkenal. Kata Pak Jassin, lho jangan begitu kan sekarang belum terkenal, nanti siapa tahu dikenal kita akan punya dokumentasinya," kisah Kepala Pelaksana Harian PDS HB  Jassin Ariany Isnamurti.

Banyak sekali kenangan yang tersimpan dalam benak Ariany dari sosok Jassin. Begitu cintanya dengan sastra, Jassin juga ingin sastra dicintai oleh masyarakatnya.  Menurut Ariany, dalam mendirikan PDS, Jassin tidak pernah berpikir untung dan rugi. Ia secara sukarela menyediakan waktu, tenaga bahkan uang untuk perkembangan 'taman sastra' tersebut.

Pernah, suatu saat Ariany berpikir untuk menyewakan buku-buku koleksi PDS HB Jassin dengan menarik bayaran. Hal itu untuk memberikan pemasukan dana perawatan koleksi semakin banyak. Namun, itu urung dilakukan karena selain pengunjung PDS  HB  Jassin keberatan, Jassin sendiri juga tidak setuju.

"Pesan dari Pak Jassin, ini pelayanan masyarakat, kamu jangan kenakan banyak uang ke masyarakat. Kamu jangan persulit orang untuk mengetahui data tentang sastra. Jangan menjual sastra," kenangnya menirukan ucapan HB Jassin.

Saat ini kondisi PDS  HB Jassin sangat memprihatinkan karena kekurangan dana. Banyak koleksi karya dan dokumen sastra yang rusak karena tak terawat. Ruangan seluas 500 meter di belakang Planetarium, Taman Ismail Marzuki itu sudah tidak muat menampung 50 ribu koleksi dokumentasi telah terkumpul, dan setiap hari terus bertambah.

HB Jassin pernah mengungkapkan impiannya untuk mempunyai gedung sendiri yang mampu menampung koleksi-koleksi tersebut. Sebuah impian yang sebenarnya cukup sederhana untuk diwujudkan oleh bangsa besar ini.

"Sebelum meninggal Pak Jassin punya mimpi, dia ingin karya sastra ini diletakkan dalam gedung, tersusun rapi, jadi terawat semua, tidak berantakan seperti sekarang," ujar Ariany.

(ebi/mmu)



source : http://www.detikhot.com/read/2011/03/23/220041/1599940/1059/impian-sederhana-hb-jassin-untuk-sastra-indonesia?h991101207

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...