Arsip Blog

Minggu, 03 April 2011

Selamat Jalan Pelopor Mode Indonesia

Dunia mode Indonesia kembali kehilangan talenta besar. Peter Sie, pelopor mode Tanah Air, mengembuskan napas terakhir di usia 82 tahun pada Jumat (1/4).


Desainer bernama asli Sie Tiam Le tersebut meninggal karena usia lanjut. Staf Peter Sie Susiana Sindhakara mengonfirmasi hal tersebut. “Lebih karena usia lanjut, usianya sudah 82 tahun.Ada dokter pribadi yang lebih mengetahuinya,” ujar Susiana, yang lebih akrab disapa Nana. Nana mengatakan, pria yang memiliki buku autobiografi berjudul Peter Sie: Mode Adalah Hidupkuitu meninggal di kediamannya di Tebet dan kemudian disemayamkan di Rumah Duka RS Cikini. Hari ini jenazahnya akan dikremasi di Rumah Kremasi Oasis Lestari,Tangerang. Peter Sie,yang lahir di Bogor pada 28 Desember 1929 itu, merupakan pelopor mode Tanah Air.

Dua tokoh mode Indonesia,perancang busana Harry Dharsono, yang pernah magang di workshop Peter Sie, dan Ketua Ikatan Perancang Mode Indonesia Sjamsidar Isa mengatakan, Peter Sie berjasa besar dalam memperkenalkan profesi rancang busana kepada masyarakat Indonesia. Profesi yang belum dikenal luas pada masa itu. Awalnya, dia mempelajari dunia jahit di Belanda pada 1947–1953, tepatnya di Vakschool voor Kleermakers en Coupeurs atau sekolah kejuruan untuk menjahit dan menggunting di Den Haag. Kembali ke Indonesia, Peter Sie merintis kariernya sebagai penjahit. Pada waktu itu pelanggannya adalah nyonyanyonya Tionghoa di sekitar rumahnya di Mangga Besar, Jakarta.

Selang empat tahun, dia mulai membuat sketsasketsa. Dan, pada tahun berikutnya, Peter Sie berpameran di Hotel Des Indes (kini pertokoan Duta Merlin). Seperti desainer lainnya, karier Peter Sie pun sempat naik-turun. Tahun 1974 dia sempat mengalami krisis karena tidak ada pelanggan yang menggunakan jasanya. Atas saran salah seorang anggota stafnya, dia pun mulai membuat beberapa baju untuk setiap rancangan.Dari situ Peter Sie mendulang sukses dan karyanya digemari konsumen. Dari segi rancangan, desainer yang selalu mendukung bakat-bakat muda di dunia mode tersebut memiliki ciri khas dari sisi ketelitian dan kehalusan pengerjaan busana. Karenanya, tidak heran bila pelanggannya adalah kaum elite, termasuk orang nomor satu di Indonesia, Presiden Soekarno.

Menurut Tjami, sapaan akrab Sjamsidar Isa, rancangan Peter Sie punya garis tersendiri. “Sangat elegan, pengerjaannya, kualitasnya, dan luar biasa kerapiannya.Cutting-nya juga perfect sekali. Rancangannya itu klasik elegan,” papar Tjami. Peter Sie juga merupakan sosok yang sangat setia dan menghargai konsumennya. Dia juga dikenal sangat mendukung talenta muda. Karenanya, wajar jika banyak desainer yang merasa kehilangan. Musa Widyatmodjo salah satunya. “Saya kenal pertama kali dengan Om Peter saat saya mengikuti Lomba Perancang Mode Femina tahun 1991. Waktu itu Om Peter jadi dewan juri.

Dia berbagi pengetahuan teknik membuat busana yang baik,”ujar Musa. Kontribusi besar Peter Sie terhadap dunia mode tercetak dalam berbagai penghargaan, termasuk sebagai Fashion Icon Jakarta Fashion & Food Festival 2006. Pada waktu itu Peter Sie mendapat penghargaan bersama-sama dengan maestro batik (alm) Iwan Tirta dan model senior Okky Asokawati. ● lesthia kertopati

source : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/390572/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...