Arsip Blog

Minggu, 17 April 2011

Populerkan Kopi Thailand di Indonesia

Berawal dari keinginan untuk sekadar memiliki, Mufid Wahyudi justru menemukan prospek besar pada waralaba kafe kopi Black Canyon Coffee yang dikelolanya.

Mufid kini tak hanya punya satu gerai sebagai subfranchise, dia juga sudah memiliki izin sebagai master franchise dari brand kopi asal Thailand tersebut.

Tak hanya membuka kedai yang menawarkan hidangan kopi, Mufid mengubahnya menjadi kafe yang memiliki varian minuman berbagai jenis kopi dan berbagai menu hidangan makanan. Tidak tanggung-tanggung, hanya dalam waktu lima tahun, pria kelahiran Surabaya 39 tahun lalu itu sudah mampu mengembangkan jaringan bisnisnya dengan membuka sebanyak 22 gerai Black Canyon Coffee hampir di seluruh kota besar di Indonesia.Kafenya tersebar dari Batam,Medan,Bandung, Jakarta,Semarang,Surabaya, Manado,hingga Makassar. Padahal,awal dari ide bisnis makanan dan minuman itu muncul tiba-tiba saat dia dan keluarga berlibur ke Thailand. Saat melintas di salah satu mal, bau harum aroma kopi menggoda penciumannya.Mufid pun tergerak untuk mencobanya.

“Setelah dicoba, ternyata kopinya enak. Makanannya pun memiliki rasa yang tidak jauh dengan kita. Lantas timbul pikiran, kenapa tidak kita kembangkan di sini (Indonesia), paling tidak bisa punya satu outletsaja,”ujar pria yang juga menekuni usaha di bidang advertising itu saat berbincang santai dengan SINDO belum lama ini. Namun, bagi Mufid mempunyai gerai bukan sekadar hanya memiliki.Dalam visinya, usaha itu harus berkembang lebih besar lagi.Bukan sekadar subfranchise, tapi juga bisa menjadi master franchise yang memiliki banyak jaringan di seluruh wilayah Indonesia.

Pada 2005,didukung keluarganya dia berupaya membuat brandtersebut masuk ke dalam negeri. Sebagai pemain baru,tentu tidak bisa begitu saja asal masuk dan berjualan. Dalam pikiran Mufid, kalau hanya masuk membawa brand dengan pengembangan yang sama seperti negara asalnya, tentu akan sia-sia.Banyak brandkopi yang sudah lebih dulu eksis dan punya nama di dalam negeri,sedangkan Black Canyon belum apa-apa.“Oleh sebab itu, saya memilih daerah luar Jakarta sebagai lokasi pengembangan. Karena di Jakarta pasti kalah. Itu sebabnya kita pilih Bali. Di Bali orang akan lebih mudah mengenal kita,”katanya. Jika di negara asalnya kedai brand-nya bisa ditemui di mana-mana, di sini dia membuatnya menjadi sebuah tempat makan dan minum dengan campuran gaya hidup.

Peningkatan dilakukan di segala sisi, dari mulai suasana, pelayanan dan juga varian menu.Tak hanya kopi dan makanan khas Thailand yang tersedia, Black Canyon di Indonesia pun menyediakan makanan lokal ataupun cita rasa Barat sebagai pilihan hidangan. Keseriusan yang membuahkan hasil.Hanya dalam waktu satu tahun, lulusan Manajemen Informatika Stikom Surabaya itu bisa membesarkan Black Canyon di Bali. Bahkan hanya dalam kurun beberapa bulan, dua gerai mampu dibesarkan pria penyuka golf itu. Kesuksesan itu memicu niatnya untuk menjadi master franchise atas usaha tersebut. Tentu saja, Black Canyon Co Ltd, selaku pemilik franchise usaha tersebut tidak begitu saja mengabulkan. Mereka ingin pembuktian, pengembangan Black Canyon yang tidak bisa hanya dalam waktu 12 bulan.

Namun karena keberhasilan dua gerai awal yang dikembangkan Mufid, sang pemilik Black Canyon pun memberi kesempatan. Pemilik Black Canyon Coffee Thailand pun tanpa ragu memberinya kepercayaan besar untuk mengembangkan kedai tersebut di Indonesia.“Barulah pada 2006 saya bisa berekspansi. Mulai Surabaya, Makassar,Bandung,Semarang dan banyak kota-kota lainnya. Dari jumlah 22 gerai itu, 11 kami miliki sendiri, sementara lainnya franchise,” tutur pria yang kini menjabat sebagai salah satu pimpinan Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restauran Indonesia (Apkrindo). Dari sejumlah gerai yang tersebar itu, omzet Black Canyon kini telah mencapai di atas Rp70 miliar per bulan.

Omzet per gerai, kata dia,berkisar antara Rp300 juta hingga Rp4 miliar per bulan.Namun,jangan langsung tergiur melihat besarnya keuntungan yang dihasilkan Black Canyon.Untuk memulai usaha itu, Mufid harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Untuk franchisefeesaja,diaharus merogoh kocek hingga USD30.000 (sekitar Rp270 juta). Namun, bukan cuma modal yang menjadi kunci sukses Mufid. Menurut dia,komitmen dalam pengembangan usahalah yang merupakan kunci sukses dalam waralaba yang dijalankannya.

Keberhasilan dia mendapatkan royalty feeakan sangat bergantung pada performa gerai-gerainya.Itusebabnya,untuk pengawasan, Mufid langsung menanganinya sendiri. Penguasaan pasar pun terus meningkat, tidak hanya di daerah, di Jabotabek pun kini Mufid sudah memiliki enam gerai. Salah satunya berada di Cilandak Town Square,Jakarta Selatan. Lebih dari itu, ekspansi pun terus dikembangkan. Tahun ini sudah ada tujuh konfirmasi pembukaan gerai baru oleh sejumlah investor. juni triyanto


source : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/393338/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...