Arsip Blog

Minggu, 03 April 2011

Hari Autis Sedunia : Apa Kabar Sahabat Autis Indonesia?


Jakarta - Sabtu 2 April 2011 seluruh penjuru dunia menyambut perayaan Hari Autis. Forum Asean Autism Network di Bangkok pada 13-15 Desember 2010 lalu menyepakati tema Hari Autis 2011 saat ini adalah "Walk for Autism". Kegiatan yang akan melibatkan para penderita autis bersama keluarganya, guru, Pemerintah Daerah, professional, LSM dan masyarakat ini akan terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Solo, Surabaya, Makasar.

Dasar hukum pelaksanaan Hari Autis Sedunia adalah resolusi PBB No. 62/139 yang dikeluarkan 18 Desember 2007. Keluarnya resolusi PBB menegaskan bahwa "autism is real". Melalui perayaan hari autis diharapkan masyarakat memiliki kepedulian dan menerima keberadaan penderita autis mengingat jumlahnya kian meningkat dari hari kehari.

Kenali Sejak Dini

Psikolog Sosial asal Amerika Robert A Baron (1993) dari hasil penelitian panjangannya tentang pembentukan perilaku individu dalam interaksi sosial memberikan definisi autis sebagai suatu kondisi seseorang sejak lahir atau masa balita yang membuatnya kesulitan melakukan hubungan sosial atau komunikasi secara normal. Kondisi seperti ini menyebabkan pertumbuhan anak teraleniasi dengan lingkungan sosialnya dan meminjam istilah Baron, anak tersebut kemudian secara perlahan masuk dunia repetitive dengan beraktifitas yang obsesif.

Anak-anak yang menderita autis dalam kesehariannya menunjukkan perilaku yang cenderung tidak lazim dengan anak-anak pada umumnya. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, pandangannya tidak fokus, temperamental, suka mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti dan hanya menyukai satu jenis mainan.

Secara garis besar Power (1989) memerinci 6 karekteristik gangguan yang ada pada penderita autis yakni interaksi sosial, komunikasi (verbal dan non verbal), perilaku emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik serta mengalami keterlambatan perkembangan.

Meskipun hasil penelitian menyebutkan 80% anak yang menderita autis memiliki kecerdasan rendah di mana mereka tak mampu melakukan komunikasi namun kita bisa mengenali gejala-gejalanya sejak dini. Pada kondisi autis dengan intelegensia rendah gejalanya dapat dilihat dari kondisi anak yang tak mampu berbicara sama sekali (non verbal), perilakunya cenderung menyakiti diri sendiri, hanya fokus pada satu aktifitas dan tidak menaruh minat pada banyak aktifitas. Baron menyebut kondisi ini sebagai low function autism.

Pada kondisi penderita autis yang memiliki intelegensia tinggi, mereka bisa menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi meski sangat efektif. Anak-anak di kelompok ini juga mampu melibatkan diri dalam perilaku yang tidak terfokus pada satu hal atau satu rutinitas. Pendikotomian dua gejala pada penderita autis ini sangat berguna untuk menentukan tindakan "terapi" yang tentunya menggunakan model yang berbeda.

Howlin (1998) menyebutkan bahwa gejala-gejala di atas baru muncul pada anak berusia 3 tahun. Di tahun pertama dan kedua anak yang menderita autis tampak normal kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari bahwa anaknya berperilaku tidak lazim di usia 3 tahun yang ditandai keterlambatan berbahasa dan cara berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Anak autis ini dapat sangat sensitive dan bahkan justru tidak responsif terhadap semua rangsangan panca indera.

Dalam rangka mengenali gejala autis tersebut, The National of Child Health and Human Development (NICHD) yang terpusat di Amerika memberikan solusi berupa panduan kepada para orang tua untuk melihat 5 jenis perilaku anak antara lain :

Pertama, anak tidak bergumam hingga usia 12 tahun.
Kedua, anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural seperti menunjuk dada, menggenggam hingga usia 12 bulan.
Ketiga, anak tidak mengucapkan sepatah katapun hingga usia 16 bulan.
Keempat, anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan.
Dan kelima, anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu.

Political Will

Penelitian tentang penderita autis di Indonesia sangat minim mengingat biayanya yang mahal sehingga sampai kini kita tidak memiliki data statistic yang valid. Psikiatri Fakultas Kedokteran UI Dr. Ika Widyawati memperkirakan jumlah penderita autis di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 6.900 anak. Jumlah tersebut akan terus meningkat tiap tahun. Bagaimana penanganan penderita autis?

Di masa lalu penanganan anak berkebutuhan khusus (penyandang cacat termasuk penderita autis) oleh pemerintah hanya menggunakan pendekatan charity (belas kasihan) berupa program santunan sosial yang kemudian menjadi akar ketergangungan kelompok ini kepada orang lain sampai usia dewasa.

Budaya kita yang tidak siap jika dalam keluarga terdapat anak-anak berkebutuhan khusus ini membuat para orang tua berlaku tidak adil dengan selalu menempatkannya di belakang sehingga pelan-pelan membentuk kepribadian tertutup pada sang anak. System pendidikan yang mendikotomikan siswa berkebutuhan khusus dengan siswa lainnya (dalam SLB) juga turut ambil bagian dalam pembentukan karakter anak di masa dewasa.

Pemerintah sebenarnya telah menunjukkan "political will” terhadap masalah pengasuhan dan pengembangan anak khususnya anak-anak usia dini dengan hadirnya banyak regulasi antara lain UU No 23/2003 tentang Perlindungan Anak, UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No 4/1997 tentang Penyandang Cacat dan UU 36/2009 tentang Kesehatan.

Dalam jajaran struktur birokrasi, setidaknya terdapat 4 Kementrian dan 1 lembaga negara yang di dalamnya menangani bidang khusus permasalahan anak antara lain Kementrian Pendidikan Nasional (Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini), Kementrian Kesehatan (Dirjend Bina Upaya Kesehatan/Posyandu), Kementrian Sosial (Direktorat Pelayanan Sosial Anak), Kementrian Pemberdayaan Perempuan (Deputi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Kementrian Agama (Kasubdit Penamas/TPA-TPQ), dan Komisi Perlinduangan Anak.

Masing-masing bidang dalam satu kementrian tersebut selama ini tentu memiliki program ideal dalam menyelesaikan permasalahan anak. Hanya saja dalam pandangan penulis dibutuhkan program yang holistik di antara kelima institusi birokrasi tersebut dengan harapan program yang dijalankannya tidak tumpang tindih dan agar penggunaan anggarannya juga efesien.

Sambil menunggu "political action” pemerintah yang diharapkan tidak sekedar menggunakan pendekatan "charity" belaka, para aktifis LSM dan psikiater di Indonesia sudah memberikan kontribusinya tentang bagaimana penananganan penderita autis yang bersifat terapi.

Ada 8 terapi yang bisa digunakan kepada penderita autis antara lain; Educational Treatment, pendekatan developmental, treatment and education and related communication, biological treatment, speech language therapy, peningkatan komunikasi, pelayanan autisme intensif dan terapi yang bersifat sensoris.

Di antara 8 macam terapi di atas, yang banyak digunakan di Indonesia adalah pendetakan educational treatment yakni meliputi prinsip-prinsip pendidikan yang ada pada Applied Behavior Analysis (ABA). Terapi ini banyak digunakan pada anak-anak penderita autis agar memiliki kemampuan bahasa, sosial, akademis dan pengendalian diri.

Menurut Handojo (2002), penerapan metode ABA jika dilakukan secara disiplin dan intensitas tinggi akan membawa sebanyak 47% anak yang menderita autis kepada keadaan normal. Motode ini bersifat "home-base" terapi sehingga bisa dilaksanakan di rumah dengan pilihan materi terapi yang berbeda-beda seseuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing anak. Terapi juga bisa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Semoga

*Susianah Affandy adalah Penulis buku Potret Pengasuhan, Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini di Indonesia, Saat ini menjadi mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB Program Studi Sosiologi Pedesaan.


Susianah Affandy
Komp. Dosen IPB Jalan Melati No 1 Darmaga, Bogor
susianah.affandy@yahoo.com
081399236046

(wwn/wwn

source : http://suarapembaca.detik.com/read/2011/04/02/162839/1607282/471/hari-autis-sedunia-apa-kabar-sahabat-autis-indonesia?882205471 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

Memuat...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...