Arsip Blog

Kamis, 07 Juli 2011

Lagu Madu & Racun Hiasi Line Dance Indonesia

LANGKAH dansa atau line dancing adalah tradisi lama yang dimiliki banyak negara. Tarian yang melibatkan banyak orang ini ditata dengan formasi berderet atau melingkar karena pada masa lalu pria dan wanita dilarang bersentuhan.

Langkah dansa kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat. Seiring perkembangan zaman, langkah dansa memiliki berbagai macam variasi gerakan, seperti country dance, hip hop dance, Michael Jackson dance, atau variasi gerakan yang diserap dari unsur-unsur dansa ballroom (waltz, tango, salsa, dan lainnya).

Meski mengadaptasi langkah dansa dari luar negeri, The Universal Line Dance (d'ULD) bertekad mengangkat budaya lokal Indonesia. Mereka menciptakan koreografi untuk lagu-lagu tradisional Indonesia, seperti Alusiau. Maka, jadilah langkah kaki ala waltz, cha cha, atau rumba dengan "rasa" Indonesia.

"Lagu ‘Madu dan Racun’ yang dulu sangat terkenal sudah dibuat koreografinya oleh orang Singapura. Sekarang kalau ngomong dansa Madu Racun orang tahunya itu dari Singapura," kata Triesna Wacik, Dewan Penasehat d'ULD saat memperkenalkan Line Dance di Jakarta, Kamis (7/7/2011).

Ketika pertama kali mengembangkan langkah dansa, Triesna mendapat banyak tantangan. Tarian ini oleh sebagian orang, dinilai tidak berkelas karena dianggap terlalu mudah dilakukan dan tidak punya style. Padahal, rumit atau sederhananya sebuah tarian, menurut Triesna, bergantung pada koreografinya.

"Banyak manfaat yang dirasakan anggota d'ULD dari menari langkah dansa. Pada dansa berpasangan, orang biasanya berhenti berdansa apabila sudah tidak punya pasangan karena mereka merasa risih juga bila harus memeluk-meluk orang lain yang bukan pasangannya," paparnya.

Ketika sudah belajar langkah dansa, kegiatan menari tetap bisa dilakukan meski tanpa pasangan. Dengan menari, kesehatan tubuh tetap terjaga.

Langkah dansa diyakini bisa mencegah kepikunan, terutama pada mereka yang usianya sudah menginjak paruh baya.

"Pada saat latihan kita kan harus mengingat-ingat urutan gerakannya. Jadi, otak kita selalu terasah," tuturnya.

Karena langkah dansa ini masuk kategori olahraga low impact, d'ULD terus berusaha mengajak orang sebanyak mungkin untuk menari. Mereka mengadakan beberapa workshop apabila terdapat enam sampai delapan koreografi baru yang dipelajari dan berniat menyebarkan gaya line dancing d'ULD melalui YouTube.

Line dancing di Indonesia juga mulai digemari anak-anak muda. Namun, biasanya gerakan yang diciptakan lebih banyak dan lebih rumit variasinya.
(nsa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

Memuat...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...