Arsip Blog

Rabu, 08 Juni 2011

ITB Gelar Konferensi E-Indonesia Bahas Komputasi Awan

Jakarta (ANTARA) - Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menggelar Konferensi e-Indonesia Initiatives (eII) Forum VII yang akan membahas pengembangan ekosistem broadband dan komputasi awan (cloud computing).

"Saat ini dunia sedang memasuki era baru teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pita lebar dan layanan komputasi awan," kata Ketua Panitia eII Prof Dr Suhono Harso dari ITB di Jakarta, Rabu.

Konferensi yang diprakarsai Kelompok Keilmuan Teknologi Informasi Sekolah Teknik Elektro dan Informasi ITB dan ICT Institute didukung Kementerian Komunikasi dan Informatika itu akan diselenggarakan di ITB pada 14-15 Juni 2011.

Kepala Institut Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB ini menambahkan pada konferensi yang akan dibuka Menkominfo Tifatul Sembiring itu bakal menghadirkan 102 pembicara.

Mereka akan membahas mengenai pembangunan ekosistem broadband, baik infrastruktur, pembiayaan dan juga konten kreatif yang harus dikembangkan termasuk teknologi komputasi awan.

Pembangunan TIK yang terkait dengan kemudahan akses informasi, transparansi, kecepatan, mobilitas tinggi, penyebarluasan, urainya, harus mampu memberi dampak dalam pembangunan ekonomi dan sosial di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyatakan, teknologi komputasi awan akan membuat penerapan e-government menjadi jauh lebih efisien dan murah.

"Saat ini setiap pemda harus mengeluarkan biaya besar dengan memiliki server sendiri untuk membangun e-goverment. Tapi kalau kita buat itu ke awan, maka 497 kabupaten/kota hingga 6.000 kecamatan di Indonesia hanya cukup memiliki satu server," kata Hammam.

Konferensi eII juga akan membahas peluang dan target untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) produk TIK yang di Indonesia masih sangat minim, dengan mensinergikan elemen pemerintah, kalangan bisnis dan ilmuwan, ujar Suhono.

"Peredaran ekonomi TIK di Indonesia mencapai Rp150 triliun per tahun. Untuk 180 juta ponsel saja kita menghabiskan lebih dari Rp25 triliun. Belum termasuk biaya membeli tablet, jaringan, broadband hingga konten. Lalu apa kita hanya terus jadi penonton?" katanya sambil bertanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

Memuat...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...