Arsip Blog

Jumat, 17 Juni 2011

Kesenian Tradisional Indonesia Janjikan Miliran Rupiah

http://www.surabayapost.co.id/gambar/8a11d7dab98b846d127301785f35dbe5.jpg
Banyak orang bilang, menggeluti kesenian tradisional Indonesia adalah “kerja bakti”, karena pamor kesenian tradisional sudah meredup tergilas roda zaman yang kian mengglobal. Kesenian kontemporer yang kuat beraroma Barat, mengambil alih posisi. Namun, ada sedikit punggawa kesenian tradisional Indonesia yang justru berhasil menderaskan aliran rupiah ke kocek mereka.
Alat musik khas Indonesia dikenal hingga ke lima benua dan Saung Angklung Udjo (SAU) punya peran di sana. Kelompok ini memainkan lagu-lagu internasional dengan alat sederhana dari bambu khas Bumi Parahyangan: angklung.
Udjo Ngalagena meninggalkan nama besar dan warisan budaya sepeninggalnya pada Mei 2001 di usia 72 tahun. Melalui putranya yang kesembilan, Taufik Hidayat Udjo, kecintaannya terhadap seni dan alat musik angklung bertahan dan justru berkembang.
Taufik berkisah, kegemaran Kang Udjo - demikian panggilan akrabnya - memainkan angklung berkeliling kampung hingga menyusuri Kota Bandung menjadi semangat berdirinya SAU sejak 1966.
Sang istri yang melahirkan 10 anak dari Kang Udjo jugapunya peran penting. Dia ikut membentuk tim kecil permainan angklung yang terdiri atas keluarga besar Kang Udjo itu. Bersama istrinya, Kang Udjo mewariskan keterampilan bermain musik tradisional itu kepada semua anak mereka.
“Seusai mengajar olahraga di sekolah guru, Kang Udjo mendatangi hotel di kota menaiki sepeda, mengenalkan angklung dan pertunjukan musik tradisional, sekaligus mengundang tamu turis asing untuk berkunjung ke saung bambu di rumah kami,” papar Taufik.
Kang Udjo membangun konsep pertunjukan angklung di saung bambu miliknya. Niat awalnya adalah mengenalkan musik tradisional angklung ke lingkungan terdekat, hingga mengajak turis asing mengenal Indonesia.
Angklung diproduksi sendiri dari pohon bambu yang selalu berproduksi. Bahkan, dia meminta pohon bambu ditebas batangnya agar bisa bertumbuh. Dari sumber produksi sederhana ini, Kang Udjo membuat sendiri instrumen musik, kemudian menciptakan pertunjukan tradisional hingga kontemporer darinya.
Taufik, sebagai generasi kedua SAU, melanjutkan misi Kang Udjo yang telah berkembang menjadi bisnis bernilai miliaran rupiah. Sayangnya, kerusuhan 1998 menghancurkan pariwisata Indonesia yang menjadi pemancing kedatangan turis asing.
“Sebelum kerusuhan, SAU didatangi 200 turis asing per hari. Prestasi ini menjadi runtuh dan belum juga pulih hingga tahun 2000,” ujar Taufik.
SAU pun menarik turis lokal setelah kehilangan pengunjung turis asing. Dengan kolaborasi musik pop dan angklung di Sabuga yang melibatkan penyanyi Sherina, SAU akhirnya menyedot perhatian turis lokal. Sejak itu, SAU menjadi destinasi wisata yang mendatangkan peluang bisnis bernilai Rp 10 miliar per tahun.
Pertunjukan musik angklung dengan modifikasi musik pop menjadi pemicunya. Lantas, produksi angklung untuk diekspor atau dibagikan secara gratis kepada klien (antara lain perusahaan dan sekolah) yang memesan pertunjukan SAU dalam kegiatan promosi mereka menjadi pendapatan lain. Produksi angklung mencapai 5.000 per bulan.
Tak berhenti di situ, SAU menjadi lokasi wisata di Jalan Padasuka, Bandung, seluas lebih dari 1 hektar. Ragam fasilitas mulai dari kuliner khas Sunda hingga  penginapan bernuansa bambu dengan kapasitas 40 orang siap menjamu pengunjung.
Toko suvenir khas Indonesia, pelatihan musik tradisional, serta yang paling menjual adalah pertunjukan rutin berkapasitas 800 orang setiap hari pukul 15.30 dengan biaya Rp 50.000 untuk dewasa (tamu lokal) dan Rp 25.000 untuk anak-anak. Tamu asing Rp 80.000 untuk dewasa dan Rp 40.000 untuk anak-anak.
Kru yang Loyal
SAU diperkuat oleh 400 kru dalam keseluruhan konsep bisnis pertunjukan dan wisata alam. Khusus untuk pertunjukan, SAU pernah mencapai rekor 15 pertunjukan dalam dua hari saja. Artinya, pengunjung SAU makin besar saja jumlahnya. “SAU sudah diundang ke berbagai negara, ini menjadi pretasi membanggakan,” ujar Taufik.
Kru yang loyal dan mencintai pekerjaan menjadi kunci kesuksesan. Bagaimana tidak, manajemen SAU lebih mengedepankan nasib karyawan ketimbang keuntungan yang dinikmati sekelompok kecil jajaran direksi.
“SAU pernah mengalami masa resesi. Saat itu, manajemen memutuskan untuk memotong 50 persen gaji top manajemen demi menyelamatkan ratusan karyawan yang berdedikasi terhadap SAU,” ujar Taufik.
Regenerasi menjadi penting dalam menjalankan bisnis tradisi seni budaya. Karena itu, menurut Taufik, pelatihan dan pewarisan keterampilan pertunjukan rakyat dengan alat angklung menjadi agenda utama.
“Anak-anak adalah sasaran utama. Karena, dengan melatih anak-anak, proses regenerasi berjalan maksimal sekaligus menumbuhkan rasa cinta budaya tradisional sebagai bentuk edukasi yang telah lama menjadi perhatian utama pendiri SAU, Kang Udjo,” ujarnya. karir-up.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

Memuat...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...