Arsip Blog

Rabu, 15 Juni 2011

Perjuangan Panjang Buruh Indonesia Menggetarkan PBB

http://image.tempointeraktif.com/?id=79684&width=274TEMPO Interaktif, Jenewa - Apa alasan sesungguhnya badan dunia PBB untuk buruh atau International Labour Organization (ILO) mengundang Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pandangannya soal buruh migran di sesi khusus Konferensi ke-100 tahun ILO di Jenewa, Swiss?

"Karena Indonesia partner baik ILO," kata Direktur ILO untuk Indonesia, Peter van Rooij, di Jenewa. "Selain itu, juga karena Indonesia telah menyelesaikan program reformasi perundang-undangan ketenagakerjaan sejalan dengan komitmen meratifikasi dan menerapkan semua konvensi mendasar ILO".

Menurut Peter, Indonesia telah meratifikasi 18 konvesi ILO, delapan di antaranya merupakan konvensi kunci. Kedelapan konvensi itu adalah Konvensi No. 98 tentang Hak untuk Berserikat, Konvensi No. 100 tentang Kesetaraan Pendapatan, Konvensi No. 87 tentang Perlindungan terhadap Hak untuk Berunding, dan Konvensi No. 105 tentang Penghapusan Kerja Paksa.

Kemudian Konvensi No. 111 tentang Diskriminasi dalam Kerja dan Jabatan, Konvensi No. 138 tentang Batasan Usia Minimum, Konvensi No. 182 tentang Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak, dan Konvensi No. 185 tentang Dokumen Identitas Pelaut.

Peter juga menegaskan bahwa Indonesia juga menjadi negara pertama di dunia yang mengadaptasi Pakta ILO tentang Lapangan Kerja Global. "Dan jangan lupa, kantor ILO di Jakarta merupakan yang terbesar," kata Peter lagi.

Seperti diketahui, di Jenewa Swiss, Selasa, 14 Juni 2011 kemarin, SBY menyampaikan pidato bertajuk "Membentuk Kerangka Kerja Baru Global untuk Keadilan Sosial dan Kesetaraan" pada Konferensi ke-100 Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) di Palais des Nations. SBY merupakan Presiden RI pertama yang diundang untuk menyampaikan pidato dalam konferensi ILO dan juga merupakan satu-satunya pemimpin Asia yang menyampaikan pandangannya.

Sidang pleno ini dibuka oleh Ketua Konferensi Robert Nkili. Presiden SBY mendapat kesempatan pertama untuk berpidato dalam konferensi bertemakan "Membangun Masa Depan dengan Pekerjaan Layak" ini, disusul Kanselir Jerman Angela Merkel. "Ini adalah kehormatan besar bagi saya untuk menjadi Presiden Indonesia pertama yang berbicara di forum terkemuka ini," kata SBY di awal pidatonya.

Saat ini, ujar Presiden SBY, tidak ada isu yang lebih penting bagi negara berkembang maupun negara maju selain masalah lapangan kerja. "Untuk negara, pekerjaan adalah mesin pembangunan dan kemajuan," ujar SBY. "Dan untuk individu, pekerjaan berarti lebih dari sekadar gaji, ia berarti martabat dan harga diri, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi keluarga, serta membuat seseorang merasa menjadi bagian dari masyarakat."

Di seluruh dunia, kata SBY, negara, masyarakat, dan perusahaan sedang berjuang untuk mencapai tujuan kembar menciptakan lapangan kerja dan mempromosikan jaminan kerja. Ini adalah tugas utama pemerintah dan perusahaan untuk menyediakan dan melindungi pekerjaan.

ILO, kata SBY, merupakan kampiun dalam mempromosikan jaminan kerja. Selama hampir satu abad, ILO telah memperjuangkan hak-hak pekerja dan menetapkan norma serta standar untuk kerja yang adil dan merata. Mereka juga mengembangkan model tripartit yang layak dengan melibatkan pemerintah, pengusaha, dan pekerja.

"Ketika krisis keuangan global mulai memukul Indonesia pada tahun 2008, hal pertama yang kami lakukan adalah melakukan sinkronisasi kebijakan dan tindakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan pihak lain," kata SBY menjelaskan.

SBY juga menyebut setidaknya tujuh prioritas nasional, tiga di antaranya berkaitan langsung dengan jaminan kerja.

Pertama, mencegah PHK. Kedua, memastikan kesehatan sektor riil yang banyak menyerap lapangan pekerjaan. Ketiga, mengambil langkah khusus untuk mencapai tujuan ekonomi dan lapangan kerja. "Kami juga melibatkan serikat buruh dan pekerja untuk bekerja sama bagi kepentingan kita bersama" kata SBY. "Ini untuk menjaga sektor riil berjalan untuk menghindari PHK besar-besaran."

Oleh karena itu, kata SBY, selama tahun 2008-2009, dari 116 juta pekerja hanya kurang dari 0,05 persen kehilangan pekerjaan mereka. "Di antara negara-negara Asia dan sebagian dunia, Indonesia adalah salah satu dari mereka yang paling kecil terkena dampak krisis," kata SBY.

WIDIARSI AGUSTINA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

Memuat...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...