Arsip Blog

Rabu, 08 Juni 2011

Motor Antik Club Indonesia Balikpapan

Seluruh_Anggota_Maci_dalam_Sebuah_Kegiatan_edit.jpg
Salah satu kegiatan anggota MACI
TRIBUNKALTIM.co.id - Para penggiat di komunitas motor antik ini mengaku kalau hobi yang mereka jalani saat ini bukan lagi hanya soal motor. Namun hal ini sudah menjadi bagian diri mereka yang hampir sudah tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Opek, seorang pentolan dari Motor Antik Club Indonesia (MACI) Balikpapan mengaku ada kenikmatan tersendiri ketika ia menuggangi motor pacuannnya di jalan raya. Selain kebanggan karena menjadi perhatian banyak orang, juga bisa merasakan pacuan mesin yang dihasilkan dari motor tua miliknya.

"Kenikmatannya ada pada irama pacuan mesin. Waktu dibawa tenaganya itu kita mau pelan, mau kencang jadi  motornya itu terasa langkahnya karena kalau dipakai motor ini stabil nggak oleng- oleng," katanya.

MACI Balikpapan sendiri merupakan komunitas dari pecinta motor-motor tua yang ada di kota minyak, dan merupakan cabang MACI Indonesia yang pusatnya berada di Surabaya.  Berdiri sejak 2002 dengan anggota yang mencapai 42 orang. Namun, saat ini yang aktif  hanya tinggal sekitar 22 orang.

Sejarah awal MACI sendiri bermula ketika Opek yang baru menyelesaikan studi di Yogyakrata kesulitan mencari rekan yang mempunyai hobi bermain motor besar seperti dirinya. Hingga ia sempat kepikiran untuk menjual motornya. Namun setelah bebarapa waktu ia menemukan tiga orang yang sama-sama menyukai motor besar.

Untuk lebih menarik minat orang lain untuk bergabung, tiga orang ini sering mengendarai kendaraan meraka secara bersamaan di jalanan kota. Lambat-laun aksi mereka menarik perhatian  orang lain hingga di tahun pertama, tujuh orang ikut bergabung. Dari tambahan orang baru itu mereka lalu mendaftarkan keanggotaan mereka kepada MACI Pusat hingga akhirnya dilakukan pengukuhan pada 20 agustus 2002.

Komunitas ini menghimpun para pecinta motor-motor tua buatan Eropa dan Amerika mulai dari BSA, AJS hingga Harley Davidson yang produksinya di bawah tahun 1960-an. Namun tak menutup kemungkinan motor buatan Jepang yang juga mempunyai citarasa Eropa bisa bergabung di klub motor ini. Bahkan bagi mereka yang tak mempunyai motor MACI juga  membuka kesempatan untuk mereka.

Pasalnya, seperti kata Opek, yang terpenting di sini bukan motornya tapi lebih kepada soul-nya. Bila jiwa mereka sebagai pemakai dan penikmat motor tua sudah masuk, mereka bisa ikut bergabung di MACI.

"Banyak juga simpatisan yang tak mampu beli tapi tetap kita rekrut karena jiwanya besar. Kalau ada motor teman yang nggak dipake kita pinjami. Jadi nggak punya motor itu nggak bisa kumpul itu salah. Tetap kami tampung aspirasinya," ujarnya.

Soal kesatuan rasa memang menjadi hal penting dalam komunitas ini. Karena kesatuan itu tak hanya terjadi antar rekan-rekan seklub namun yang paling utama kesatuan ini sudah menyentuh antara pengguna dengan motor tunggangannya.

Sebelum terjun ke hobi ini, Anton, rekan Opek mewanti-wanti, ia harus menyelaraskan dahulu antara ia dan motornya. Sebab sebagai barang tua motor ini tentu harus diberikan perhatian lebih dibandingkan motor-motor keluaran terbaru, baik dalam segi perawatan maupun pemakaian.

"Ini motor tua bukan kayak motor sekarang. Harus dirawat khusus kampasa remnya pokoknya maintenance-nya. Jadi kalau jiwanya nggak pas pasti akan hancur, harus paham dulu karena kalau itu nggak dibentuk nggak akan lama pasti hancur itu motor," ujarnya.

Bahkan bagi Anton motor ini sudah dianggapnya sebagai istri kedua karennya jika sehari saja tak mendengarkan suara motor kesayangannya rasnya ada yang beda dalam hidupnya. Tak jarang hal tersebut kadangkala menimbulkan kecemburuan sang istri.

Seperti juga yang dituturkan Opek, setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk menyentuh motor miliknya dari mulai bersih-bersih sampai memodifikasi beberapa onderdil yang rusak. 
"Perawatan hampir tiap hari saya jamah motor itu. Dari megang, bersih-bersih pokoknya tiap harilah, " kata Opek sambil tersenyum.

Agar sesama anggota lebih akrab, berbagai kegiatan digelar. Dari mulai touring, berwisata bersama keluarga, sampai bakti sosial yang dilakukan ke beberapa panti asuhan. Secara rutin, mereka selalu nongkrong bareng setiap Jumat malam di depan SMP KPS. (m35)     
 

Editor : Fransina
Sumber : Tribun Kaltim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...