Arsip Blog

Selasa, 07 Juni 2011

Indonesia Sudah Sejajar dengan BRIC

VIVAnews – Pakar marketing dunia, Philip Kotler,  menganggap Indonesia sudah sejajar dengan kelompok negara kekuatan ekonomi baru, BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China). Dengan pertumbuhan ekonomi yang terus melaju, menurut diq, BRIC seharusnya ditambah dengan huruf I (Indonesia) menjadi BRICI.

Disamping sektor industri, salah satu kekuatan ekonomi Indonesia terletak pada sektor pariwisata dengan ikon-nya, Bali.  Kotler menilai industri pariwisata Indonesia perlu mempropagandakan keunggulan wisata kepada masyarakat di belahan negara lain. Indonesia harus bisa menciptakan sebuah slogan menarik dan berkesan yang mampu menggambarkan keelokan alam di tanah air.

Sebagian pengamatan dan usulan Philip Kotler ini disampaikan dalam sebuah wawancara khusus VIVAnews.com di Hotel Four Season, Ubud, Bali beberapa hari lalu. Kotler kali ini datang ke Indonesia dengan maksud meresmikan Museum Marketing 3.0 yang merupakan museum pemasaran pertama dan satu-satunya dunia.
Berikut petikan wawancara Philip Kotler dengan VIVAnews.com:

Apa tanggapan Anda mengenai Bali?
Bali telah berhasil mengelola pelayanan kualitas khusus dan budaya khusus lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan pelancong. Wisata Bali telah memuaskan wisatawan dengan menyajikan keunggulan apa adanya.

Bali telah memiliki kapasitas untuk mengelola pariwisata dan wisatawannya. Mereka harus bisa memastikan bahwa Bali memiliki akomodasi dan hotel yang cukup bagi para turis. Satu hal yang menjadi masalah adalah kemacetan karena Bali tidak bisa menambah ruas jalan lagi.

Mungkin, Bali harus memutuskan tipe wisata seperti apa yang diinginkan wisatawan. Perbedaaan utama dari kegiatan wisata dunia terletak pada wisatawan berkelas dan wisatawan biasa-biasa saja.

Wisatawan berkelas adalah mereka yang datang dengan uang cukup banyak, fasilitas terbaik, dan tinggal dalam kurun waktu lama. Ini adalah tipe turis terbaik. Sedangkan wisatawan biasa adalah mereka yang datang untuk 1-2 hari saja dan hanya ingin melihat-lihat.

Jika saya menjadi pengelola Bali, saya akan sangat hati-hati memutuskan hal ini. Sudah pasti saya akan mengincar wisatawan yang memang serius ingin tinggal di sini, menghabiskan uang dan mempelajari budaya yang dilihatnya.

Menurut Anda, wisatawan seperti apa yang cocok untuk Bali?
Saya menduga, wisatawan Australia yang datang ke Bali ingin menikmati  kehidupan malam dan pantai. Mereka adalah tipe wisatawan yang ingin  menghabiskan waktu bermain golf, pantai, dan senang-senang.  Ada juga tipe wisatawan yang datang untuk menikmati budaya seperti melihat museum  atau wisata etnographi.
Mungkin saja ada wisatawan yang datang ke Bali dan mempertimbangkan Bali  sebagai rumah kedua atau ketiga bagi mereka. Saat ini juga ada sekitar 4-5 tipe wisatawan. Kami biasa menyebutkan  tiga segment wisata.

Bali selama ini tidak pernah membatasi turis untuk datang, tapi Bali perlu membuat pendekatan lebih banyak.

Contohnya, mungkin Bali harus lebih banyak menyasar turis dari Jerman atau  Perancis. Jika hanya mengandalkan turis yang datang untuk melihat-lihat  saja, mungkin Bali harus menggelar promosi untuk mencampur asal wisatawan  yang disasar.

Saya baru mengetahui, ketika banyak turis Jerman yang datang, mereka akan  memberitahu warga Jerman lain dan akhirnya Bali akan memperoleh banyak  wisatawan Jerman.

Namun jika tidak melakukan seperti hal itu, Bali hanya bisa mendatangkan  bermacam-macam wisawatan dan itu pertumbuhannya lambat.
Karena Bali banyak memiliki budaya menarik, Anda harus mencari tahu negara  mana yang sangat perduli dengan budaya-budaya yang menarik. Sebagai contoh,  turis Jerman dan Skandinavia terkenal suka berjalan-jalan ke berbagai  bagian negara lain untuk mempelajari kebudayaan baru.
Anda tidak akan banyak mendatangkan wisatawan asal Amerika Selatan  untuk belajar mengenai kebudayaan. Mereka biasanya datang untuk hal lain.

Artinya Indonesia harus membuat target turis?
Betul, jadi Anda harus banyak menggelar promosi, juga meneliti untuk  mengetahui seberapa besar mereka tertarik dengan wisata budaya, berapa  banyak uang yang akan mereka habiskan, dan berapa lama mereka akan tinggal  di sini.

Jika seseorang tertarik dengan Bali, kemana lagi mereka mempertimbangkan untuk berwisata? Apakah mereka akan memikirkan pergi ke Hawaii, Fiji, atau  Thailand? Mungkin Anda bisa belajar dari pesaing-pesaing yang ada.

Bagaimana tanggapan Anda dengan pariwisata dari negara-negara itu?
Anda tahu, Thailand saya pikir kota tujuan wisata yang populer dengan  lamanya pelancong berkunjung. Namun karena kisruh politik dimana orang lama  ingin kembali berkuasa, pelancong merasa kurang aman.
Hal ini juga yang terjadi ketika wisatawan merasa kurang aman berkunjung ke  Bali ketika bom pertama kali meledak di Bali. Tapi saya pikir wisatawan merasa lebih aman.
Ini penting diketahui, karena ketakutan akan menyakiti Bali. Jadi sangat  penting untuk memiliki kebijakan dan keamanan yang terjaga.

Saya kira saat ini wisata di Asia telah populer bagi warga AS, terlihat banyaknya kunjungan wisatawan ke  Vietnam, mungkin Kamboja, Laos, dan Burma. Jadi Anda harus tahu apa yang  terjadi pada sektor pariwisata di negara-negara yang berbeda ini untuk  mengetahui apa yang mereka inginkan.

Anda tentu tidak ingin menginginkan  jenis wisata yang sama untuk menarik wisatawan yang sudah pergi ke Kamboja.  Ini tipe wisata yang berbeda. Saya pikir banyak hal yang dilupakan mengenai  Bali.

Saya pikir banyak warga AS yang mengenal nama Bali, namun mereka tidak  banyak mengetahui tentang Bali. Film terbaru berjudul Eat, Pray, Love untuk pertama kalinya mengangkat nama Bali ke layar lebar.

Sebenarnya saya ingin mengangkat industri film atau mungkin mengajak  pembuat  film dari Holywood untuk membuat film romantis ber-setting  Bali.
Langkah ini sukses dilakukan oleh Hongkong, saya lupa nama judul  filmnya, sepertinya dibintangi oleh William Goldwin atau yang lain.  Sebuah  cerita yang terkenal mengenai Hongkong, sebuah cerita cinta, saya ingin  membuat film seperti itu dengan latar Bali.

Jika anda bertanya pada orang umum, sebutkan tiga hal mengenai Bali, apa  yang akan mereka katakan? Satu pihak mungkin akan mereka katakan,  Bali adalah sebuah pulau. Tapi saya bertanya-tanya, apakah mungkin mereka katakan Indonesia. Saya kurang yakin banyak orang mengenai Pulau Bali berada di  Indonesia.
Bahkan Julia Robert dalam salah satu wawancaranya pernah mengatakan bahwa  di berlibur ke Bali, tidak pernah menyebutkan pulau ini ada di Indonesia. (tertawa....)

Kembali lagi, jadi tiga hal yang mungkin mereka katakan soal Bali, pertama  pulau. Kedua, saya tidak yakin apa mereka tahu Bali dikenal dengan peduduknya yang kebanyakan beragama Hindu. Yang ketiga adalah soal, ... pantai yang bagus.

Anda terpilih sebagai warga kehormatan Bali, bagaimana kesan Anda?
Pertama, ini saya sampaikan, saya adalah duta Indonesia  untuk bidang pariwisata. Kedua, saya sekarang memegang kunci dari kota Denpasar.
Saya merasa tersanjung dan menikmati sore yang menyenangkan kemarin dengan  ratusan orang menunggu perhelatan untuk mendengarkan sambutan dari walikota dan pidato saya.
Usai menjadi warga kehormatan, apakah Anda tidak tertarik mengikuti jejak Anthonio Blanco, tinggal di Bali?
Memang kemarin saya juga sempat mengunjungi Museum Anthonio Blanco dan saya  berpikir dia adalah seniman master dan salah satu yang harus kita kenal  lebih dekat.
Blanco sama bagusnya dengan Dali (Salvador Felip Jacint Dalí Domènech) dimana pemerintah Spanyol memberikan  penghargaan kepadanya. Karya senin Blanco sangat unik karena dia tidak hanya melukis tapi juga membingkai keadaan.
Saya juga bertemu dengan Mario Blanco, anaknya, dan dia sangat asli serta  penuh kasih sayang. Dia juga mampu menciptakan lukisan layaknya seniman  sejati, mirip dengan lukisan ayahnya. Jadi, tampaknya lukisan Antonio Blanco diteruskan oleh anaknya.

Apa usul Anda bagi Bali, dan Indonesia umumnya, dalam mengembangkan industri pariwisata?
Pertama, untuk indonesia, saya menilai di dunia ini ada lima, bukan empat,  negara emerging countries. Empat negara lain adalah Brazil, Rusia, India,  dan China (BRIC). Seharusnya istilah BRIC diganti menjadi BRICI, dengan kata I terakhir merujuk  pada Indonesia. Selanjutnya, orang akan mulai mencari tahu, siapa itu Indonesia?

Kedua, Indonesia membutuhkan publikasi yang lebih banyak mengenai pertumbuhan ekonomi. Negara Anda saat ini tumbuh rata-rata 6-7 persen per tahun dan ini bisa membuat orang terkesan untuk mengetahui bahwa ekonomi Indonesia semakin kuat. Bahkan jika dibandingkan Amerika Serikat yang sebatas mengalami pertumbuhan.

Anda tahu pertanyaan bagi wisatawan tidak hanya kesan mengenai Indonesia di masa lampau, saat ini pun banyak orang mengatakan mengenai Indonesia.
Saya mau bertanya, tiga kata apa yang bisa dikatakan orang untuk menggambarkan Indonesia? mungkin, negara di Pasifik, negara di Asia, negara dengan banyak pulau yang mencapai 19 ribu pulau, serta penduduk yang banyak. Itulah beberapa hal yang mereka tahu soal Indonesia.

Jadi, salah satu bagian dari persoalan adalah bagaimana memberikan berbagai pandangan yang tidak hanya menarik tapi juga mengesankan.

Sekarang saya ingin kembali bertanya,  apa yang menarik dan berkesan dari Indonesia? Pertama, rata-rata pertumbuhan ekonomi. Kedua, pemimpin dari komunitas ASEAN, pimpinan dari 9 negara dimana masyarakat dunia sudah mengenai negara-negara lainnya. Mereka mengetahui Thailand dan negara Asia lain, dan Indonesia adalah pemimpinnya. Ketiga, Indonesia aman dan progresif.

Permasalahannya sekarang , karena adanya konflik antar agama membuat beberapa orang mempertanyakan apakah Indonesia aman.
Indonesia adalah negara terbuka, masyarakat dunia harus tahu bahwa Indonesia adalah masyarakat demokratis dan Dia memiliki berbagai hal yang berbeda bagi semua orang baik di Jawa, Sumatera, Bali yang dimiliki oleh setiap orang.

Mungkin Indonesia harus menggunakan agen publikasi untuk menciptakan ide mengenai Indonesia.

Bagaimana penilaian Anda soal pariwisata di Indonesia?
Apakah pariwisata Anda terlau kecil atau kebesaran?  Apakah Indonesia kedatangan wisatawan terlalu banyak atau sedikit? Anda memang sudah melampaui target kunjungan yang ditentukan, namun itu belum cukup.
Kapasitas untuk pariwisata di Indonesia sebetulnya lebih besar dari angka-angka yang ditargetkan. Walau diakui Indonesia (Bali)  juga tidak ingin kedatangan wisatawan yang berlebihan.

Indonesia pastinya menginginkan wisatawan bisa berkunjung ke wilayah lain, tidak hanya bali. Ini bisa membuat Bali tidak mengalami overload turis.

Apa tujuan Anda mendirikan museum marketing?
Saya sangat bersemangat dalam pembukaan Museum Marketing 3.0 ini. Alasannya saya berharap ini bisa mengubah persepsi buruk masyarakat mengenai pemasaran. Harus diakui, memang ada marketing yang jahat dan baik juga. Contohnya, marketing yang baik tidak akan memasarkan rokok.

Begitu pula dengan museum ini, kami berharap orang akan datang ke museum ini dengan beragam rasa ingin tahu. Museum apa ini, apa itu museum marketing? Saya tidak tahu banyak mengenai marketing dan saya ingin masuk dan melihat-lihat.  Nah, ketika mereka keluar dari museum inilah, mereka akan mempunyai pemikiran baru mengenai pemasaran.

Saya membayangkan pengunjung yang datang akan berkata, “Lihatlah produk ini yang telah membantu kita, membuat hidup lebih baik, menyantap hidangan sehat, dan lain-lain.” Atau akan ada pengunjung yang berkata, “Lihatlah cara komunikasi yang dibuat dari pemasaran produk ini misalkan Nike dengan tageline "Just Do It”. Anda tahu, hal seperti inilah yang kami inginkan dari museum ini,

Jadi saya berpikir pengunjung akan keluar dari museum ini dengan perasaan yang baik mengenai pemasaran. Mungkin saja beberapa diantara mereka berpikir untuk belajar mengenai pemasaran.

Mungkin pemasaran dalam buku Marketing 1.0 terfokus pada pemasaran produk, Marketing 2.0 yang membuat masyarakat merasa terikat dengan perusahaan tertentu. Marketing 3.0 adalah pemasaran yang membuat masyarakat terkesan dengan perusahaan yang dianggap akan membantu kehidupan mereka.
Mengapa Anda memilih Bali?

Bali adalah pulau 3.0, karena disini kami mengenail istilah People (masyarakat), Planet (bumi), dan Prosperity (kemakmuran) atau disingkat 3P, yang orang lain pasti inginkan.
Di Bali juga ada keluarga Istana dari kerajaan Ubud dengan tiga orang saudaranya. Kerajaan ini  berayahkan seorang raja agung yang mampu mendatangkan Blanco, yang membuka jalan untuk masuknya seni. Tidak hanya wayang, atau dansa tapi seni. Orang-orang yang didatangkan ke Bali ini telah berkontribusi banyak pada Bali.
Bali adalah pulau yang memiliki masyarakat terbuka dan saling mengasihi dan sangat perduli pada keluarga kerajaan. Dengan beragam alasan itulah saya memilih mendirikan museum di sini.
****
• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thanks for comment

Pencarian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...