INILAH.COM, Banten - Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, Korea telah berkomitmen untuk investasi di Indonesia dengan nilai mencapai US$20 miliar.
Adapun beberapa perusahaan Korea yang telah berkomitmen di antaranya Posco, Lotte, dan Hanson. "Yang sudah pasti itu dari Korea, Posco, Lotte, Hanson, banyak lagi yang sudah komit. Dan pada bulan Mei, bilateral kita di Bali untuk pastikan semua proyek-proyek itu berjalan. Itu sekitar US$20 billion (miliar). Itu dari Korea saja," ujarnya usai peresmian pabrik keramik di Serang Banten, Jumat (1/4).
Namun, lanjutnya, angka investasi tersebut belum memperhitungkan komitmen Posco yang akan menaikkan investasinya hingga US$12 miliar. "Belum, belum (termasuk)," ungkapnya.
Sebagai informasi, Posco menyatakan untuk meningkatkan investasinya di Indonesia hingga dua kali lipat, dari semula US$6 miliar menjadi sekitar US$12 miliar. "Posco itu, dari Pak Gita (Kepala) BKPM, yang semula investasi 6 billion tapi mereka akan meningkatkan investasinya," ungkapnya.
Ia menyatakan, peningkatan investasi tersebut mencapai sekitar US$12 miliar yang diproyeksikan untuk beberapa tahun ke depan. "Ya (US$12 miliar), tapi tentu dalam beberapa tahun ke depan," tandasnya. [cms]
Jumat, 01 April 2011
2017, Tak Ada Lagi Televisi Analog di Indonesia
SOLO - Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan tahun 2017 tidak akan ada lagi televisi analog di Indonesia, yang ada adalah televisi digital.
Melalui sistem penyiaran digital, wilayah penyiaran hanya akan dibagi menjadi 15 zona dari sebelumnya yang mencapai 33 zona. Dengan sistem penyiaran digital tersebut maka tidak akan ada lagi TV nasional.
Hal ini dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring di sela-sela Seminar Nasional Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) dengan tema Kesiapan Implementasi Sistem Penyiaran Televisi Digital di Indonesia di Solo, Jum’at (1/4).
"Dengan adanya penyiaran digital maka tidak akan ada lagi yang namanya TV nasional. Sebab semua siaran televisi jika ingin melakukan siaran di semua zona harus berjaringan dengan daerah," jelasnya.
Siaran televisi digital tersebut telah dimulai sejak Desember 2010 lalu dengan mengganti siaran televisi analog TVRI menjadi digital. Lebih lanjut Tifatul mengatakan melalui siaran digital selain diuntungkan dengan kualitas gambar dan suara yang lebih jernih, juga tidak ada lagi monopoli content karena industri penyiaran dengan industri content akan terpisah. Untuk 1 zona bisa untuk 48 channel dengan MPEG2 dengan jika mengunakan MPEG4 untuk 1 zona bisa untuk 90 channel.
"Trend ke depan adalah industri content dan saat ini jaringan kabel optik di Indonesia telah menjadi 80 persen kecuali Papua dan Maluku," katanya.
Keuntungan lain dari siaran digital adalah dari segi efisiensi biaya karena penyelenggaran penyiaran tidak harus berdiri sendiri sebab untuk 1 multilayer bisa untuk 6 hingga 12 channel. (srn)
source : http://techno.okezone.com/read/2011/04/01/54/441405/2017-tak-ada-lagi-televisi-analog-di-indonesia
Kadin Dukung Indonesia Ketua APEC 2013
VIVAnews - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia hari ini, Jumat 1 April 2011 menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas), dengan tema "Realisasi Pembangunan Infrastruktur dan Konektivitas untuk Akselarasi Ekonomi Daerah Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN".
Menurut Ketua Steering Committee (SC), Anindya N Bakrie, dalam Rapimnas yang diselenggarakan di Jakarta dan Makassar ini, selain fokus terhadap tiga hal, Kadin menyatakan dukungannya terhadap Indonesia yang terpilih sebagai Ketua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013.
"Sebab, Kadin selalu mendukung program nasional maupun internasional," ujar Anindya dalam sambutan Rapimnas yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta.
Dalam Rapimnas tersebut, selain diikuti 1.500 perserta dan 33 Ketua Kadin di seluruh Indonesia, juga dihadiri sejumlah menteri seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Kelautan, Fadel Muhammad, dan sejumlah menteri lain di bidang ekonomi.
Pada sambutannya, Anindya Bakrie juga mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran Ibu Negara Ani Yudhoyono, yang dianggap membawa angin segar buat para pengusaha Indonesia. "Khususnya, para pengusaha wanita," kata dia. (adi)
• VIVAnews
Menurut Ketua Steering Committee (SC), Anindya N Bakrie, dalam Rapimnas yang diselenggarakan di Jakarta dan Makassar ini, selain fokus terhadap tiga hal, Kadin menyatakan dukungannya terhadap Indonesia yang terpilih sebagai Ketua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013.
"Sebab, Kadin selalu mendukung program nasional maupun internasional," ujar Anindya dalam sambutan Rapimnas yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta.
Dalam Rapimnas tersebut, selain diikuti 1.500 perserta dan 33 Ketua Kadin di seluruh Indonesia, juga dihadiri sejumlah menteri seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Kelautan, Fadel Muhammad, dan sejumlah menteri lain di bidang ekonomi.
Pada sambutannya, Anindya Bakrie juga mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran Ibu Negara Ani Yudhoyono, yang dianggap membawa angin segar buat para pengusaha Indonesia. "Khususnya, para pengusaha wanita," kata dia. (adi)
• VIVAnews
Indonesia Masih Jadi Tujuan Investasi
JAKARTA--MICOM: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk maju karena masih menjadi negara tujuan investasi bagi negara-negara sahabat.
"Banyak saudara kita negara sahabat yang ingin menjalin kerja sama, utamanya bidang ekonomi dengan Indonesia," kata Yudhoyono saat membuka Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri di Jakarta, Jumat (1/4).
Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Yudhoyono mengetahui itu dari minat kepala negara-negara sahabat yang ingin berkunjung ke Indonesia. Yudhoyono menegaskan telah menerima laporan yang memaparkan bahwa ada 40 permintaan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 2011. Permintaan kunjungan kenegaraan itu dikirimkan oleh para pimpinan negara sahabat Indonesia.
"Saya angkat hal ini untuk meyakinkan kita bahwa 'there is great opportunity' dalam menjalin kerja sama dan kemitraan dengan negara sahabat," katanya.
Presiden mengatakan, beberapa faktor yang menjadi daya tarik Indonesia adalah potensi pertumbuhan pasar yang sangat besar. Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang beragam dan sumber daya manusia yang terampil dan melimpah. Meski minat negara sahabat untuk menanamkan modal di Indonesia cukup besar, Yudhoyono tetap berharap para pengusaha Indonesia yang tergabung dalam KADIN bisa merebut peluang tersebut. "KADIN harus terlebih dulu melakukan investasi dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri," katanya.
Selain itu, Yudhoyono berharap penyelenggara negara, pelaku usaha dan masyarakat bersama-sama membangun Indonesia, sehingga menjadi semakin menarik bagi para investor. Hal itu antara lain bisa dilakukan dengan membangun infrastruktur yang layak, baik di Jawa maupun di luar Jawa. (Ant/OL-04)
source : http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/01/214666/4/2/Indonesia-Masih-Jadi-Tujuan-Investasi
"Banyak saudara kita negara sahabat yang ingin menjalin kerja sama, utamanya bidang ekonomi dengan Indonesia," kata Yudhoyono saat membuka Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri di Jakarta, Jumat (1/4).
Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Yudhoyono mengetahui itu dari minat kepala negara-negara sahabat yang ingin berkunjung ke Indonesia. Yudhoyono menegaskan telah menerima laporan yang memaparkan bahwa ada 40 permintaan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 2011. Permintaan kunjungan kenegaraan itu dikirimkan oleh para pimpinan negara sahabat Indonesia.
"Saya angkat hal ini untuk meyakinkan kita bahwa 'there is great opportunity' dalam menjalin kerja sama dan kemitraan dengan negara sahabat," katanya.
Presiden mengatakan, beberapa faktor yang menjadi daya tarik Indonesia adalah potensi pertumbuhan pasar yang sangat besar. Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang beragam dan sumber daya manusia yang terampil dan melimpah. Meski minat negara sahabat untuk menanamkan modal di Indonesia cukup besar, Yudhoyono tetap berharap para pengusaha Indonesia yang tergabung dalam KADIN bisa merebut peluang tersebut. "KADIN harus terlebih dulu melakukan investasi dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri," katanya.
Selain itu, Yudhoyono berharap penyelenggara negara, pelaku usaha dan masyarakat bersama-sama membangun Indonesia, sehingga menjadi semakin menarik bagi para investor. Hal itu antara lain bisa dilakukan dengan membangun infrastruktur yang layak, baik di Jawa maupun di luar Jawa. (Ant/OL-04)
source : http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/01/214666/4/2/Indonesia-Masih-Jadi-Tujuan-Investasi
Tujuh Peluang Bisnis di Indonesia Menurut Yudhoyono
TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan ada tujuh tantangan di Indonesia yang bisa menjadi peluang bagi pengusaha. Ketujuh peluang itu diuraikannya di hadapan para peserta Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jumat (1/4).
Pertama, Indonesia sedang membutuhkan sumber daya yang besar, termasuk sumber daya keuangan untuk mengembangkan ekonomi selama 15 tahun mendatang. Produk domestik bruto di Indonesia kini US$ 700 miliar, dan ditargetkan melesat menjadi US$ 4 triliun pada tahun 2025.
"Untuk menuju ke sana, struktur ekonomi kita tidak bisa seperti ini. Sektor manufaktur dan jasa harus lebih dikembangkan, ditambah teknologi dan investasi yang tinggi," ujarnya.
Yang kedua, perekonomian kawasan luar pulau Jawa belum berkembang maksimal. Sekarang proporsi perekonomian Jawa terhadap perekonomian nasional disebutnya mencapai 58 persen, dan tak boleh dibiarkan terus begitu karena daya dukung lingkungan makin berkurang. Pebisnis ditantangnya mengembangkan ekonomi daerah di luar Jawa.
Peluang berikutnya adalah kebutuhan listrik yang terus meningkat. Setiap tahun ada penambahan permintaan sebesar 3000 megawatt, dan diperkirakan bakal mencapai 80 ribu megawatt di 2025. "Bisa ditangkap, ada opportunity (kesempatan) usaha di bidang energi dan pembangkit tenaga listrik," tuturnya.
Keempat, peluang di sektor infrastruktur. Ia memandang perlu ada pembangunan besar-besaran agar konektivitas di dalam negeri maupun ke luar makin meningkat. Masih banyak kebutuhan pembangunan dermaga, bandara, jalan tol, transportasi, dan irigasi.
Ketiga, permintaan pasokan listrik di Indonesia terus meningkat. Diperkirakan, pada tahun 2025, kebutuhan listrik di Indonesia menapai 80.000 megawatt. Setiap tahun, sambung Presiden, ada penambahan permintaan pasokan listrik sebesar 3.000 megawatt. "Ada big opportunity dalam sektor kelistrikan," kata Presiden.
Keempat, ada peluang di bidang infrastruktur. Meningkatnya kegiatan bisnis di Indonesia berbanding lurus dengan kebutuhan infrastruktur, utamanya di sektor transportasi, seperti dermaga, bandara, jalan tol, serta irigasi.
Kemudian, kesempatan lain ada dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Dengan penduduk 240 juta orang dan daya beli yang meningkat, Indonesia memerlukan makin banyak pangan, energi, dan air. Berarti, bisnis yang berhubungan dengan ketiga jenis konsumsi itu bakal berkembang pesat. Ia ingin pengusaha membantu agar Indonesia makin mandiri dalam memenuhi tiga kebutuhan tersebut.
Yang keenam adalah pembiayaan pembangunan nasional, yang diperkirakan bakal makin diperlukan seiring dengan berjalannya pembangunan di Indonesia. Yudhoyono mengatakan sekarang sekitar US$ 300 miliar siap diinvestasikan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. Dananya diperoleh dari perusahaan pelat merah, swasta, dan mitra dari negara sahabat. Belum lagi belanja pemerintah, yang dalam empat tahun setidaknya Rp 100 triliun bakal digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur.
Terakhir, Yudhoyono berujar perlu ada sinergi antara pebisnis dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dengan begitu, kebijakan dan regulasi betul-betul tepat, sehingga dunia usaha berkembang dan memberi manfaat bagi negara dan rakyat.
source : http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/04/01/brk,20110401-324431,id.html
Pertama, Indonesia sedang membutuhkan sumber daya yang besar, termasuk sumber daya keuangan untuk mengembangkan ekonomi selama 15 tahun mendatang. Produk domestik bruto di Indonesia kini US$ 700 miliar, dan ditargetkan melesat menjadi US$ 4 triliun pada tahun 2025.
"Untuk menuju ke sana, struktur ekonomi kita tidak bisa seperti ini. Sektor manufaktur dan jasa harus lebih dikembangkan, ditambah teknologi dan investasi yang tinggi," ujarnya.
Yang kedua, perekonomian kawasan luar pulau Jawa belum berkembang maksimal. Sekarang proporsi perekonomian Jawa terhadap perekonomian nasional disebutnya mencapai 58 persen, dan tak boleh dibiarkan terus begitu karena daya dukung lingkungan makin berkurang. Pebisnis ditantangnya mengembangkan ekonomi daerah di luar Jawa.
Peluang berikutnya adalah kebutuhan listrik yang terus meningkat. Setiap tahun ada penambahan permintaan sebesar 3000 megawatt, dan diperkirakan bakal mencapai 80 ribu megawatt di 2025. "Bisa ditangkap, ada opportunity (kesempatan) usaha di bidang energi dan pembangkit tenaga listrik," tuturnya.
Keempat, peluang di sektor infrastruktur. Ia memandang perlu ada pembangunan besar-besaran agar konektivitas di dalam negeri maupun ke luar makin meningkat. Masih banyak kebutuhan pembangunan dermaga, bandara, jalan tol, transportasi, dan irigasi.
Ketiga, permintaan pasokan listrik di Indonesia terus meningkat. Diperkirakan, pada tahun 2025, kebutuhan listrik di Indonesia menapai 80.000 megawatt. Setiap tahun, sambung Presiden, ada penambahan permintaan pasokan listrik sebesar 3.000 megawatt. "Ada big opportunity dalam sektor kelistrikan," kata Presiden.
Keempat, ada peluang di bidang infrastruktur. Meningkatnya kegiatan bisnis di Indonesia berbanding lurus dengan kebutuhan infrastruktur, utamanya di sektor transportasi, seperti dermaga, bandara, jalan tol, serta irigasi.
Kemudian, kesempatan lain ada dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Dengan penduduk 240 juta orang dan daya beli yang meningkat, Indonesia memerlukan makin banyak pangan, energi, dan air. Berarti, bisnis yang berhubungan dengan ketiga jenis konsumsi itu bakal berkembang pesat. Ia ingin pengusaha membantu agar Indonesia makin mandiri dalam memenuhi tiga kebutuhan tersebut.
Yang keenam adalah pembiayaan pembangunan nasional, yang diperkirakan bakal makin diperlukan seiring dengan berjalannya pembangunan di Indonesia. Yudhoyono mengatakan sekarang sekitar US$ 300 miliar siap diinvestasikan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. Dananya diperoleh dari perusahaan pelat merah, swasta, dan mitra dari negara sahabat. Belum lagi belanja pemerintah, yang dalam empat tahun setidaknya Rp 100 triliun bakal digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur.
Terakhir, Yudhoyono berujar perlu ada sinergi antara pebisnis dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dengan begitu, kebijakan dan regulasi betul-betul tepat, sehingga dunia usaha berkembang dan memberi manfaat bagi negara dan rakyat.
source : http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/04/01/brk,20110401-324431,id.html
Langganan:
Postingan (Atom)




