WASPADA ONLINE
SINGAPURA - Militer
Indonesia dan Singapura melakukan latihan bersama sejak tanggal 1 hingga
12 Desember nanti. Latihan bilateral bersama kali ini dengan nama-sandi
Safkar Indopura. Singapura yang jadi tuan rumah.
Strait Times
melaporkan, Kepala Angkatan Darat Singapura, Mayjen Ravinder Singh dan
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Pramono Edhie Wibowo yang secara
bersama-sama membuka secara resmi latihan bersama ini. Pembukaan
dilaksanakan hari ini, Sabtu (3/12) di Camp Quee Amoy, Singapura, dengan
upacara militer. Ini merupakan latihan bersama yang kali ke-23 bagi
kedua negara tetangga ini.
Selama 12 hari, tentara dari kedua
negara akan berlatih operasi perkotaan dan tembak-memenembak. Puncaknya,
akan dilaksanakan latihan penuh pasukan gabungan. Sekitar 400 personil
dari Resimen Infanteri Singapura dan 200 personil dari Brigade
Infanteri 6, KOSTRAD (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) yang
terlibat dalam latihan istimewa ini.
Dengan pelaksanaan latihan
yang rutin ini, hubungan pertahanan Singapura dan Indonesia akan
bertambah baik. Selain latihan bilateral, kedua pasukan juga terlibat
dalam pertukaran profesional dan saling mengirimkan utusan untuk setiap
program pendidikan profesional. Interaksi yang berkelanjutan ini juga
diharapkan mampu meningkatkan hubungan dekat dan memupuk saling
pengertian antar-personil militer kedua negara.
(dat15/rmol)
Tampilkan postingan dengan label Kerjasama Luar Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerjasama Luar Negeri. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Desember 2011
Selasa, 05 Juli 2011
Indonesia-Korsel kerja sama pendidikan kelautan
JAKARTA: Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang kelautan dan perikanan dengan membuat kesepakatan letter of intent (LoI) di sektor kelautan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan kerja sama itu merujuk pada deklarasi yang telah disepakati kedua negara sebagai kemitraan strategis dalam mendukung persahabatan dan kerja sama abad 2 yang ditandatangani pada Desember 2006.
"Jadi penandatangan hari ini merupakan peningkatan dari kesepakatan 2006 yang menegaskan pentingnya peran dan kontribusi berbagai pengetahuan dan pengalaman tekhnis kelautan dan perikanan," ujarnya seusai menandatangani LoI Indonesia-Korea di bidang kelautan dan perikanan, hari ini.
Fadel memaparkan KKP bersama dengan Korea Maritime Institute (KMI) akan aktif menggali peluang kerja sama peningkatan keilmiahan serta riset kelautan dan perikanan, pengembangan dan peningkatan kapasitas teknologi kelautan, energi alternatif bersumber laut, pengelolaan berkelanjutan dan terpadu ekosistem laut dan pesisir, konservasi sumber daya hayati perikanan serta pembentukan pusat kajian kebijakan kelautan, termasuk pendidikan kelautan dan perikanan.
Menurut dia, peluang-peluang tersebut akan ditempuh melalui pelatihan, lokakarya serta peningkatan kapasitas lainnya, seperti riset dan pengembangan bersama, pertukaran tenaga ahli, informasi dan data terkait.
Untuk implementasi kesepakatan tersebut, KKP dan KMI akan menunjuk focal point masing-masing guna mendiskusikan lebih lanjut langkah operasional.
Tindak lanjut dari kesepakatan itu, kedua pihak akan menyelenggarakan seminar internasional Indonesia-Korea Ocean and Fisheries Forum pada 6 Juli 2011 di Jakarta.
Fadel memaparkan Korea akan membantu Indonesia berupa kapal-kapal dan pihaknya meminta Korea untuk membangun institute keluatan dan perikanan.
Dia menuturkan pihaknya telah mendapatkan lahan seluas 60 hektare di Karawang Jawa Barat. Adapun, dana untuk membangun institute itu sekitar Rp365 miliar.
Korea, kata dia, akan membantu peralatan. Menurut Fadel, sekolah perikanan dan kelautan di dalam negeri belum bagus dan perlu adanya standard internasional.
"Kita [sekolah perikanan domestik] jauh di bawah mereka [di luar negeri]. Sudah saya bangun sendiri, presiden dukung. Tanah dari kita, ada dana pendampingan dari Korea, alat-alat dari korea. akan dimulai tahun ini. Mungkin 3 tahun baru selesai." (faa)
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan kerja sama itu merujuk pada deklarasi yang telah disepakati kedua negara sebagai kemitraan strategis dalam mendukung persahabatan dan kerja sama abad 2 yang ditandatangani pada Desember 2006.
"Jadi penandatangan hari ini merupakan peningkatan dari kesepakatan 2006 yang menegaskan pentingnya peran dan kontribusi berbagai pengetahuan dan pengalaman tekhnis kelautan dan perikanan," ujarnya seusai menandatangani LoI Indonesia-Korea di bidang kelautan dan perikanan, hari ini.
Fadel memaparkan KKP bersama dengan Korea Maritime Institute (KMI) akan aktif menggali peluang kerja sama peningkatan keilmiahan serta riset kelautan dan perikanan, pengembangan dan peningkatan kapasitas teknologi kelautan, energi alternatif bersumber laut, pengelolaan berkelanjutan dan terpadu ekosistem laut dan pesisir, konservasi sumber daya hayati perikanan serta pembentukan pusat kajian kebijakan kelautan, termasuk pendidikan kelautan dan perikanan.
Menurut dia, peluang-peluang tersebut akan ditempuh melalui pelatihan, lokakarya serta peningkatan kapasitas lainnya, seperti riset dan pengembangan bersama, pertukaran tenaga ahli, informasi dan data terkait.
Untuk implementasi kesepakatan tersebut, KKP dan KMI akan menunjuk focal point masing-masing guna mendiskusikan lebih lanjut langkah operasional.
Tindak lanjut dari kesepakatan itu, kedua pihak akan menyelenggarakan seminar internasional Indonesia-Korea Ocean and Fisheries Forum pada 6 Juli 2011 di Jakarta.
Fadel memaparkan Korea akan membantu Indonesia berupa kapal-kapal dan pihaknya meminta Korea untuk membangun institute keluatan dan perikanan.
Dia menuturkan pihaknya telah mendapatkan lahan seluas 60 hektare di Karawang Jawa Barat. Adapun, dana untuk membangun institute itu sekitar Rp365 miliar.
Korea, kata dia, akan membantu peralatan. Menurut Fadel, sekolah perikanan dan kelautan di dalam negeri belum bagus dan perlu adanya standard internasional.
"Kita [sekolah perikanan domestik] jauh di bawah mereka [di luar negeri]. Sudah saya bangun sendiri, presiden dukung. Tanah dari kita, ada dana pendampingan dari Korea, alat-alat dari korea. akan dimulai tahun ini. Mungkin 3 tahun baru selesai." (faa)
Australia Minati Kedelai & Cokelat Indonesia
JAKARTA - Pengusaha makanan dan minuman asal Australia tertarik untuk memasok bahan baku seperti kedelai dan cokelat dari Indonesia.
Hal ini sebagai dampak dari keikutsertaan Indonesia dalam pameran Good Food & Wine Show yang diadakan 1-3 Juli 2011 di Sydney Exhibition and Convention Center.
Seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima okezone dari Kementerian Perdagangan, Selasa (05/07/2011) di Jakarta, dari forum business matching, Sanitarium (produsen makanan dan minuman breakfast foods and soy Australia) berencana mengunjungi PT Garuda Food Putra Putri Jaya pada Agustus mendatang untuk mencari pasokan bahan baku produk breakfast and soy foods.
"Sanitarium tertarik untuk mengembangkan beberapa proyek kerjasama dengan PT Garuda Food Putra Putri Jaya untuk beberapa jenis atau tipe healthy snack bars," tulis keterangan tersebut.
Selain itu, PT Wahana Interfood Nusantara juga direncanakan akan mengunjungi salah satu food service distributor di Australia. "Indonesia yang merupakan negara terbesar ketiga penghasil coklat dunia, dan harga produk cocoa dan chocolate Indonesia dapat bersaing dengan produk-produk cocoa dan chocolate dari negara lain," lanjutnya.
Sebagai informasi, di Australia, pameran ini dikunjungi lebih dari 135 ribu pengunjung. Dalam kesempatan ini, Indonesia menampilkan beragam produk makanan dan minuman seperti biscuit, snack, confectionary, basic food, beverage (PT Garuda Food Putra Putri Jaya), cocoa dan chocolate (PT Wahana Interfood Nusantara), agar-agar (PT Dunia Bintang Walet) dan crackers, drinks, essence, flour, noodle, spices, sweets (Eastern Cross Trading Co.).
Dari pameran ini, jejaring pemasaran produk makanan dan minuman Indonesia di supermarket-supermarket besar di Australia, seperti Coles, Woolworths yang kebanyakan dijalankan oleh warga keturunan Asia semakin terbuka lebar.
Menurut Australian Food and Grocery Council (AFGC), industri manufaktur makanan dan minuman di Australia merupakan salah satu industri dengan kontribusi utama bagi perekonomian Australia dengan pendapatan dan penjualan per tahun mencapai 100 miliar dolar Australia. Diperkirakan, industri produk makanan dan minuman organik di Australia juga akan meningkat 10-30 persen karena saat ini permintaan produk organik melebihi penawaran.
(wdi)
Hal ini sebagai dampak dari keikutsertaan Indonesia dalam pameran Good Food & Wine Show yang diadakan 1-3 Juli 2011 di Sydney Exhibition and Convention Center.
Seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima okezone dari Kementerian Perdagangan, Selasa (05/07/2011) di Jakarta, dari forum business matching, Sanitarium (produsen makanan dan minuman breakfast foods and soy Australia) berencana mengunjungi PT Garuda Food Putra Putri Jaya pada Agustus mendatang untuk mencari pasokan bahan baku produk breakfast and soy foods.
"Sanitarium tertarik untuk mengembangkan beberapa proyek kerjasama dengan PT Garuda Food Putra Putri Jaya untuk beberapa jenis atau tipe healthy snack bars," tulis keterangan tersebut.
Selain itu, PT Wahana Interfood Nusantara juga direncanakan akan mengunjungi salah satu food service distributor di Australia. "Indonesia yang merupakan negara terbesar ketiga penghasil coklat dunia, dan harga produk cocoa dan chocolate Indonesia dapat bersaing dengan produk-produk cocoa dan chocolate dari negara lain," lanjutnya.
Sebagai informasi, di Australia, pameran ini dikunjungi lebih dari 135 ribu pengunjung. Dalam kesempatan ini, Indonesia menampilkan beragam produk makanan dan minuman seperti biscuit, snack, confectionary, basic food, beverage (PT Garuda Food Putra Putri Jaya), cocoa dan chocolate (PT Wahana Interfood Nusantara), agar-agar (PT Dunia Bintang Walet) dan crackers, drinks, essence, flour, noodle, spices, sweets (Eastern Cross Trading Co.).
Dari pameran ini, jejaring pemasaran produk makanan dan minuman Indonesia di supermarket-supermarket besar di Australia, seperti Coles, Woolworths yang kebanyakan dijalankan oleh warga keturunan Asia semakin terbuka lebar.
Menurut Australian Food and Grocery Council (AFGC), industri manufaktur makanan dan minuman di Australia merupakan salah satu industri dengan kontribusi utama bagi perekonomian Australia dengan pendapatan dan penjualan per tahun mencapai 100 miliar dolar Australia. Diperkirakan, industri produk makanan dan minuman organik di Australia juga akan meningkat 10-30 persen karena saat ini permintaan produk organik melebihi penawaran.
(wdi)
Senin, 04 Juli 2011
RI-Malaysia kerja sama permodalan koperasi
JAKARTA: Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan rancangan rencana kerja sama antara gerakan koperasi Indonesia dengan Malaysia cenderung pada peningkatan investasi atau permodalan.
Kecenderungan itu dipilih pada bidang permodalan karena secara kelembagaan maupun sumber daya alam, Indonesia dinilai sudah mapan. Sedangkan sisi kekurangannya adalah sumber pembiayaan atau kebutuhan permodalan.
"Oleh karena itu, konsep kerja sama yang kita rancang lebih pada sumber permodalan. Potensi kita dari sisi jumlah penduduk sangat besar, dan saya kira mereka sangat tertarik menanamkan investasi di gerakan koperasi nasional," ujar Sjarifuddin Hasan kepada wartawan hari ini.
Intinya, Indonesia merupakan peluang pasar bagi Malaysia untuk memperlkuat permodalan gerakan koperasi di Indonesia. Malaysia saat ini diketahui hanya memiliki sekitar 8.000 koperasi, jauh lebih kecil dengan jumlah koperasi nasional di atas angka 175.000.
Oleh karena itu, Menkop dan UKM optimistis kerja sama di bidang investasi tersebut akan menguntungkan Indonesia. Apalagi di Malaysia dikabarkan kelebihan likuiditas pembiayaan, sehingga peluang permodalan sangat diharapkan dari gerakan koperasi Malaysia.
Pasalnya, dengan skala kapasitas ekonomi yang jauh berbeda, Malaysia akan tertarik menjalin kerja sama di bidang permodalan. Bagaimana proses kerja sama itu, kata Menkop dan UKM, niat gerakan koperasi Malaysia melalui pejabat negaranya harus disambut.
Menteri Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi, dan Kepenggunaan Malaysia, Dato' Sri Ismail Sabri bin Yakoob, pada 21 Juni berkunjung ke Kantor Kementerian Koperasi dan UKM untuk membicarakan rencana kerja sama tersebut.
Menurut Sjarifuddin, dalam kerja sama ini dia memang tidak berbicara tentang permodalan yang bersumber dari perbankan Malaysia, karena hal merupakan pasar ekonomi terbuka. Padahal, kepentingan gerakan koperasi dititikberatkan pada anggota.
Selain merencanakan kerja sama di bidang permodalan, Indonesia menginginkan dilengakpi dengan transfer pengalaman antar gerakan koperasi kedua negara.(ea)
Kecenderungan itu dipilih pada bidang permodalan karena secara kelembagaan maupun sumber daya alam, Indonesia dinilai sudah mapan. Sedangkan sisi kekurangannya adalah sumber pembiayaan atau kebutuhan permodalan.
"Oleh karena itu, konsep kerja sama yang kita rancang lebih pada sumber permodalan. Potensi kita dari sisi jumlah penduduk sangat besar, dan saya kira mereka sangat tertarik menanamkan investasi di gerakan koperasi nasional," ujar Sjarifuddin Hasan kepada wartawan hari ini.
Intinya, Indonesia merupakan peluang pasar bagi Malaysia untuk memperlkuat permodalan gerakan koperasi di Indonesia. Malaysia saat ini diketahui hanya memiliki sekitar 8.000 koperasi, jauh lebih kecil dengan jumlah koperasi nasional di atas angka 175.000.
Oleh karena itu, Menkop dan UKM optimistis kerja sama di bidang investasi tersebut akan menguntungkan Indonesia. Apalagi di Malaysia dikabarkan kelebihan likuiditas pembiayaan, sehingga peluang permodalan sangat diharapkan dari gerakan koperasi Malaysia.
Pasalnya, dengan skala kapasitas ekonomi yang jauh berbeda, Malaysia akan tertarik menjalin kerja sama di bidang permodalan. Bagaimana proses kerja sama itu, kata Menkop dan UKM, niat gerakan koperasi Malaysia melalui pejabat negaranya harus disambut.
Menteri Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi, dan Kepenggunaan Malaysia, Dato' Sri Ismail Sabri bin Yakoob, pada 21 Juni berkunjung ke Kantor Kementerian Koperasi dan UKM untuk membicarakan rencana kerja sama tersebut.
Menurut Sjarifuddin, dalam kerja sama ini dia memang tidak berbicara tentang permodalan yang bersumber dari perbankan Malaysia, karena hal merupakan pasar ekonomi terbuka. Padahal, kepentingan gerakan koperasi dititikberatkan pada anggota.
Selain merencanakan kerja sama di bidang permodalan, Indonesia menginginkan dilengakpi dengan transfer pengalaman antar gerakan koperasi kedua negara.(ea)
Langganan:
Postingan (Atom)